Menu

Peternak nikmati energi terbarukan dari program Desa Energi Berdikari PHR

Muhardi 14 Oct 2022, 16:36
Satu dari delapan reaktor biogas yang dibangun PHR dan YRE bersama masyarakat di desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kampar.
Satu dari delapan reaktor biogas yang dibangun PHR dan YRE bersama masyarakat di desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kampar.

RIAU24.COMTapung, Kampar -  Dalam upaya memberi akses terhadap pengusahaan dan pemanfaatan energi terbarukan kepada masyarakat, PT Pertamina Hulu Rokan bekerjasama dengan Yayasan Rumah Energi (YRE) saat ini tengah mengembangkan proyek Desa Energi Berdikari di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Setelah selesai membangun 8 reaktor biogas percontohan  bersama masyarakat di desa tersebut, PHR dan YRE melakukan penyuluhan tentang pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan reaktor biogas. Termasuk pemanfaatan ampas biogas untuk menghasilkan pupuk organik bagi tanaman. Penyuluhan dilakukan di Balai Desa Mukti Sari, Tapung (12/10).


Darman, salah satu peternak penerima manfaat program biogas tengah menghidupkan lampu yang energinya berasal dari reaktor biogas yang dibangun di dekat kandang ternak miliknya.

Desa Energi Berdikari merupakan program Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan (TJSL) PHR WK Rokan yang fokus pada dukungan terhadap kemandirian energi di tingkat masyarakat desa. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan dan pengembangan energi baru dan terbarukan. Program yang dilaksanakan di Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, ini memanfaatkan kotoran sapi dari peternakan masyarakat setempat, yang diolah menjadi biogas.

“Metode peternakan sapi yang dikandangkan membuat program ini berpotensi berhasil dilakukan. Karena kotoran ternak menjadi mudah dikumpulkan untuk kemudian diproses di reaktor biogas”, ujar Krisna Wijaya, Pendamping Teknis dari YRE.

Sementara itu, Manager Social Performance PHR WK Rokan, Pinto Budi Bowo Laksono, menyampaikan bahwa proyek Desa Energi Berdikari tidak saja memberi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Tapi juga memberikan solusi pengelolaan limbah organik dan Kesehatan lingkungan bagi masyarakat, dengan mengkonversi limbah organik menjadi gas. Baik untuk memasak maupun penerangan. “Konsep pemberdayaan yang kami lakukan dimulai dari apa potensi yang sudah dimiliki masyarakat, yang manfaatnya bisa dirasakan bersama“, tegas Pinto. 

Darman, salah satu penerima manfaat program biogas di desa Mukti Sari, mengatakan bahwa dulu dia terpaksa hanya dapat berbagi aroma tidak sedap dari kandang ternaknya. Kini Darman bisa berbagi penerangan di malam hari. Bahkan gas untuk memasak kepada warga sekitar. “saya sekarang bisa berbagi kebahagiaan kepada tetangga”, ujar Darman sambil tersenyum.   

Penyuluhan yang dilakukan PHR dan YRE tentang bagaimana memanfaatkan ampas dari sisa pengolahan biogas ini juga dihadiri masyarat desa tetangga, yang juga antusias untuk mencoba gagasan energi berdikari ini.