Menu

Anak-anak Gaza Pilih Breakdance Sebagai Terapi Trauma Perang Selama Bertahun-tahun 

Zuratul 19 Oct 2022, 10:52
Potret Anak-anak dan Remaja Gaza Melakukan Breakdance. (Foto: Ynetnews)
Potret Anak-anak dan Remaja Gaza Melakukan Breakdance. (Foto: Ynetnews)

RIAU24.COM - Para remaja memilih belajar dan melakukan gerakan breakdance di jalanan kamp pengungsi Nusseirat Jalur Gaza tengah. 

Tarian yang pernah dikutuk oleh beberapa penduduk setempat sebagai tidak bermoral, sekarang dipandang sebagai cara untuk membantu anak-anak muda mengatasi perang dan trauma selama bertahun-tahun.

Gerakan dengan nama seperti top rock dan down rock ini adalah bagian dari program pelatihan oleh pelatih Gaza Ahmed Al-Ghraiz. Ghraiz mengaku menggunakan tarian sebagai terapi untuk membantu anak-anak menghilangkan rasa takut dan melepaskan ketegangan.

Laki-laki berusia 32 tahun ini juga memiliki sertifikat dalam studi pasca-trauma. Dia menghabiskan tujuh tahun di Eropa dan kembali untuk mengadakan pertunjukan breakdance bersama teman-temannya. Pertunjukan ini memperlihatkan perjuangan Palestina, khususnya Gaza.

Pada awal merintis perlatihan tersebut, orang-orang di kamp menolak gaya tari hip-hop, sampai Ghraiz menunjukkan kegiatan itu dapat menolong beberapa masalah sehari-hari yang dialami oleh anak-anak dan membantu memproses pengalaman mereka. 

"Beberapa anak datang kepada saya dan mengatakan mereka lelah, mereka terlihat layu, yang berarti tidak cukup istirahat atau tidur nyenyak. Saya menemukan bahwa beberapa digunakan untuk melukai diri mereka sendiri, dan yang lain menghindari kegiatan sosial," kata Ghraiz mengutip Republika. 

"Olahraga dan gerakan seperti itu menciptakan stabilitas psikologis," ujarnya.

Tarian digunakan di seluruh dunia sebagai praktik terapi bersama konseling tradisional dan upaya rehabilitasi lainnya. Gerakan tari  bertujuan untuk meredakan kecemasan, depresi, kemarahan, dan stres pasca-trauma.

UNICEF pada 2022 mengatakan, hampir 500 ribu anak-anak di Gaza membutuhkan perawatan psikologis. Anak-anak membentuk sekitar setengah dari 2,3 juta penduduk Palestina di Gaza.

“Kami takut, kami tinggal di rumah, dan kami takut akan suara-suara, dari drone dan perang,” kata Jana Al-Shafe yang berusia 11 tahun.

"Kesehatan mental kami berubah dengan breakdance. Kami terhibur ketika kami datang ke sini dan bermain dengan teman-teman kami dan mengubah suasana hati kami," ujarnya.

Breakdancing umumnya diyakini telah muncul di kalangan penari kulit hitam dan Latin di New York pada 1970-an. Gerakan tarian itu menjadi fenomena dunia dengan munculnya budaya hip-hop. Gaya tarian akrobatik ini dimasukkan untuk pertama kalinya sebagai olahraga di Olimpiade 2024 di Paris.

(***)