Menu

Cuaca Panas Ekstrem Meningkat, Ini Negara yang Paling Berisiko Terkena Dampaknya 

Zuratul 5 May 2023, 11:13
Cuaca Panas Ekstrem Meningkat, Ini Negara yang Paling Berisiko Terkena Dampaknya. (detik.com/Foto)
Cuaca Panas Ekstrem Meningkat, Ini Negara yang Paling Berisiko Terkena Dampaknya. (detik.com/Foto)

RIAU24.COM - Banyak negara di dunia yang saat ini tengah dilanda cuaca panas yang meningkat. 

Beberapa di antaranya, terjadi karena afek dari gelombang panas yang ekstrem. 

Untuk lebih mempersiapkan kondisi yang mungkin terjadi di depan, para peneliti dari inggris telag mengidentifikasi negara-negara yang paling beresiko terkena bahaya gelombang panas.

Negara yang Berisiko Terkena Dampak Gelombang Panas

Kondisi ini bukan hanya tentang perkiraan gelombang panas, namun juga memperhitungkan faktor-faktor seperti sosial ekonomi, pertumbuhan populasi, stabilitas jaringan energi, dan ketersediaan layanan kesehatan.

Dari hasil penelitian, wilayah seperti Afghanistan, Papua Nugini, dan Amerika Tengah paling berisiko terkena dampak gelombang panas yang merusak.

Kemudian Beijing dan Eropa Tengah juga rentan karena populasinya yang besar sehingga menempatkan jumlah orang yang relatif besar dalam risiko.

Potensi Gelombang Panas di Masa Depan

Para peneliti ingin melihat lebih banyak hal untuk mempersiapkan gelombang panas yang berpotensi menghancurkan yang akan datang.

Bagian dari masalah yang paling disadari adalah peneliti tidak yakin apa yang akan terjadi. Mereka mengatakan apa yang ada di masa depan kemungkinan besar akan lebih buruk daripada yang telah dilihat mereka hingga saat ini.

"Seringkali, daerah hanya siap menghadapi kejadian ekstrem yang pernah mereka alami, dengan perencanaan yang diprakarsai oleh bencana di masa lalu," tulis para peneliti dikutip dari Science Alert.

"Pembuat kebijakan dan pemerintah perlu mempersiapkan diri untuk peristiwa di luar catatan saat ini. Terutama dengan tren yang disebabkan oleh perubahan iklim antropogenik yang meningkatkan kemungkinan ekstrem," tambah keterangan dari peneliti.

Penelitian dengan Pemodelan Iklim

Para peneliti menggunakan model iklim terbaru dan data populasi global untuk membuat penilaian. Mereka juga menggunakan metode untuk menentukan kemungkinan berulangnya peristiwa iklim ekstrem yang dikenal sebagai statistik nilai ekstrem.

Secara statistik, gelombang panas yang cukup ekstrem untuk tidak diprediksi oleh model, telah terjadi di 31 persen dari 136 wilayah yang dicakup oleh penelitian selama 60 tahun terakhir.

"Karena gelombang panas semakin sering terjadi, kita perlu lebih siap," kata ilmuwan iklim, Vikki Thompson dari University of Bristol di Inggris.

"Kami mengidentifikasi daerah yang mungkin beruntung sejauh ini. Beberapa daerah ini memiliki populasi yang berkembang pesat, beberapa negara berkembang, beberapa sudah sangat panas. Kami perlu menanyakan apakah rencana aksi panas untuk daerah ini sudah cukup," imbuhnya.

Negara-negara berkembang adalah yang paling tidak mungkin memiliki rencana panas yang komprehensif, menurut para peneliti.

Harapannya, sementara upaya untuk mengurangi pemanasan global terus berlanjut, langkah-langkah dapat diambil untuk membatasi bahaya dari peristiwa cuaca ekstrem yang sedang terjadi.

(***)