Menu

Studi Harvard Beberkan Sederet Bahaya Vape, Nggak Lebih Aman Dibanding Rokok!

Devi 22 Aug 2023, 13:04
Studi Harvard Beberkan Sederet Bahaya Vape, Nggak Lebih Aman Dibanding Rokok!
Studi Harvard Beberkan Sederet Bahaya Vape, Nggak Lebih Aman Dibanding Rokok!

RIAU24.COM - Para peneliti di Harvard-affiliated Massachusetts General Hospital mengungkapkan efek fatal dari penggunaan vape. 

Ditemukannya, pemakaian rokok elektrik dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas kecil, dengan gejala yang mirip dengan asma.

Studi pertama yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine Evidence menyoroti jaringan paru-paru pada pengguna rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan vape, ditemukan dalam sampel kecil fibrosis pasien. 

Ditemukannya, terdapat kerusakan pada saluran udara kecil yang mirip dengan kerusakan inhalasi kimiawi pada paru-paru.

Kerusakan tersebut umumnya ditemukan pada tentara yang baru kembali dari perang dan sempat menghirup gas berbahaya.

Penulis dalam penelitian tersebut sekaligus profesor patologi di Harvard Medical School, Lida Hariri, menjelaskan empat individu yang dipelajari mengalami cedera pada lokasi anatomi yang sama di dalam paru-paru.

Cedera yang terjadi bermanifestasi sebagai fibrosis kecil yang berpusat pada saluran napas dengan bronkiolitis konstriktif. 

Setelah dilakukan evaluasi klinis menyeluruh, ia menemukan bahwa kondisi tersbeut berkaitan dengan penggunaan vape.

"Kami juga mengamati ketika pasien berhenti melakukan vaping, mereka mengalami pembalikan sebagian dari kondisi tersebut selama satu hingga empat tahun. Meskipun tidak lengkap karena sisa jaringan parut di jaringan paru-paru," ujar Lida Hariri dikutip dari laman The Harvard Gazette, Selasa (22/8/2023).

Penggunaan vaping terpantau meningkat terutama di kalangan orang dewasa dan remaja telah terjadi di Amerika Serikat.

Penelitian menunjukkan sekitar 9 persen populasi atau hampir 28 persen siswa sekolah menengah adalah pengguna rokok elektrik.

Untuk menentukan patofisiologi gejala dasar yang disebabkan vaping, tim MGH memeriksa keempat pasien dengan riwayat pemakaian vape selama tiga hingga delapan tahun, dan mempunyai penyakit paru-paru kronis.

Evaluasi klinis terperinci, tes fungsi paru, hingga biopsi paru bedah dijalani keempat pasien tersebut. 

Peneliti menemukan, terdapat riwayat bronkiolitis konstruktif yang disebabkan oleh fibrosis di dalam dinding bronkiolus pada setiap pasien. 

Pada sel saluran napas dan sampel dahak keempat pasien tersebut, terdapat protein pembentuk gel di lapisan lendir saluran napas.

Para peneliti menyimpulkan bahwa temuan bronkiolitis konstriktif yang terlihat pada kelompok pasien, berbeda dengan emfisema ringan yang dimiliki oleh salah satu pasien tersebut.

Setelah diketahui jenis kerusakan paru-paru pada semua pasien sama, perbaikan sebagian gejala juga dihentikan serta setelah evaluasi menyeluruh dengan mengesampingkan kemungkinan penyebab lainnya, para peneliti menyimpulkan bahwa vaping adalah penyebab yang paling mungkin terjadi.

"Penyelidikan kami menunjukkan bahwa kelainan patologis kronis dapat terjadi pada paparan vaping," ujar profesor kedokteran HMS sekaligus penyelidik dokter di Mass General Research Institute, David Christiani. ***