Menu

Kata KPU Soal Perbedaan Data Pemilih di Kuala Lumpur

Azhar 27 Feb 2024, 15:14
Ketua KPU RI Hasyim Asyari. Sumber: koran tempo
Ketua KPU RI Hasyim Asyari. Sumber: koran tempo

RIAU24.COM - Ketua KPU RI Hasyim Asyari memastikan data pemilih di Kuala Lumpur, Malaysia berada di angka 62 ribu.

Artinya, terjadi keterangan berbeda mengenai latar belakang masalah pencoblosan Pemilu 2024 di Kuala Lumpur, Malaysia dikutip dari rmol.id, Selasa 27 Februari 2024.

"Kira-kira begini. (Angka) 497 ribu itu DP4, data penduduk potensial pemilih. Dan kemudian di cek yang alamatnya dikenali, itu sekitar 62 ribu. Dan yang lain itu alamatnya tidak dikenali," sebutnya.

Tak hanya itu, Hasyim juga berbeda pendapat apabila PSU Pemilu 2024 di Kuala Lumpur disebut-sebut mirip dengan kejadian PSU di wilayah yang sama pada Pemilu 2019 silam.

"Kalau 2019 masalah yang di Kuala Lumpur bukan soal daftar pemilihnya, karena ditemukan surat suara dengan metode pos yang kemudian diketahui sudah ada di luar (bukan diterima pemilih yang terdaftar di DPT), (tapi) dicoblos oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," ujarnya.

Meskipun seperti itu, PSU untuk pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) untuk daerah pemilihan (Dapil) II DKI Jakarta Tahun 2024 di Kuala Lumpur, akan dimulai dari pemutakhiran data pemilih.

"Jadi berdasarkan (hasil pengawasan) pemilihan oleh Bawaslu, baik Panwaslu Kuala Lumpur maupun KPU Pusat, dipandang penting ya untuk memeriksa kembali, memutakhirkan kembali daftar pemilih di Kuala Lumpur sebagai basis untuk PSU," sebutnya.

Untuk diketahui, KPU RI melakukan rekomendasi hasil pengawasan Bawaslu RI atas pencoblosan di Kuala Lumpur.

Isinya, meminta pemungutan dan penghitungan suara ulang (PSU) dilaksanakan untuk metode pos dan kotak suara keliling (KSK).