Menu

Diyakini Jejak Pemberontakan Yahudi, Koin Berusia 1.600 Tahun Ditemukan di Terowongan Galilea

Rizka 24 Sep 2025, 12:26
Koin tembaga
Koin tembaga

RIAU24.COM - Para arkeolog menemukan 22 koin tembaga berusia 1.600 tahun di kompleks terowongan bawah tanah di Galilea. Temuan ini diyakini terkait dengan Pemberontakan Gallus, pemberontakan Yahudi terakhir melawan Romawi. 

Tim arkeolog menemukan harta karun berupa 22 koin tembaga di celah sempit dalam sebuah terowongan di bawah permukiman kuno Hukok, Galilea

Terowongan ini sebelumnya diketahui digunakan sebagai tempat persembunyian selama dua pemberontakan besar Yahudi melawan Romawi: Pemberontakan Besar (66–70 M) dan Pemberontakan Bar-Kokhba (132–135 M). 

Namun, hasil analisis mengejutkan. Koin-koin tersebut tidak berasal dari periode dua pemberontakan itu, melainkan dari masa pemerintahan Kaisar Constantius II (337–361 M) dan Constans I (337–350 M). 

Hal ini menunjukkan koin disembunyikan pada masa Pemberontakan Gallus (351–352 M), pemberontakan Yahudi terakhir yang sering luput dari perhatian sejarah. 

Temuan ini memberi petunjuk penting bahwa terowongan kuno tersebut dimanfaatkan berulang kali selama berabad-abad. 

“Ini menunjukkan bahwa ratusan tahun setelah terowongan ini digali, terowongan itu kembali digunakan,” ungkap Uri Berger (arkeolog dari Israel Antiquities Authority/IAA) dan Yinon Shivtiel (profesor arkeologi gua dari Zefat Academic College). 

“Harta karun ini kemungkinan besar merupakan bukti unik bahwa kompleks persembunyian ini digunakan kembali saat krisis lain, yakni selama Pemberontakan Gallus sebuah pemberontakan yang hanya memiliki sedikit bukti sejarah.” 

Para peneliti menemukan koin dalam sebuah lubang kecil yang digali di ujung terowongan berkelok. Hal ini menunjukkan bahwa pemiliknya dengan sengaja menyembunyikannya, berharap bisa mengambilnya kembali ketika keadaan sudah aman. 

“Tampaknya orang yang menyembunyikan harta ini merencanakan dengan sangat hati-hati tempat penyimpanannya, dengan harapan bisa kembali mengambilnya setelah masa-masa sulit berlalu,” tambah Berger dan Shivtiel. 

Romawi telah menguasai Tanah Suci sejak 63 SM, dan orang Yahudi melakukan pemberontakan beberapa kali sepanjang masa itu.

Pemberontakan Gallus dinamai dari Constantius Gallus, seorang “caesar” atau pejabat tinggi Romawi yang memerintah provinsi-provinsi timur atas nama Kaisar Constantius II (sepupunya). 

Sayangnya, pemberontakan itu gagal. Pasukan Romawi menghancurkan dan membakar banyak kota Yahudi, meninggalkan jejak penderitaan yang dalam bagi penduduk setempat. 

Temuan ini akan dipublikasikan dalam edisi mendatang jurnal Israel Numismatic Research dan diharapkan memberi wawasan baru tentang sejarah Yahudi di era akhir kekuasaan Romawi. 

Selain menjadi bukti arkeologis yang langka, penemuan ini membantu melengkapi puzzle sejarah tentang bagaimana masyarakat Yahudi bertahan hidup di bawah tekanan imperium terbesar dunia kala itu.