Menu

Dari Ambisi 3 Periode sampai Dinasti Politik, Eks Penasihat Spiritual Jokowi Bicara Blak-blakan

Zuratul 20 May 2026, 09:59
Sri Eko Sriyanto Galgendu (Eko Lemu), Mantan Penasihat Spiritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Screenshot/YouTube/ForumKeadilanTv)
Sri Eko Sriyanto Galgendu (Eko Lemu), Mantan Penasihat Spiritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Screenshot/YouTube/ForumKeadilanTv)

Dalam wawancara itu, Eko turut mengungkap pandangannya mengenai hubungan politik antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai Jokowi melihat Prabowo sebagai sosok yang memiliki komitmen dan tahu membalas budi. Hal tersebut, menurut dia, menjadi salah satu faktor kedekatan keduanya dalam dinamika politik nasional.

Eko juga membahas posisi Gibran Rakabuming Raka dalam pemerintahan saat ini. Ia menilai kapasitas dan pengalaman politik Gibran masih menjadi sorotan publik. Menurut dia, keterlibatan aktif Jokowi dalam sejumlah agenda politik belakangan menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kesiapan politik anak-anaknya.

“Jangan buat negara ini sebagai tempat pembelajaran,” kata Eko dalam wawancara tersebut saat menyinggung kepemimpinan generasi muda di lingkar kekuasaan.

Selain itu, Eko memperkenalkan istilah “operasi kodok” yang ia gunakan untuk menggambarkan dugaan praktik politik berupa adu domba, propaganda, dan penciptaan kegaduhan di ruang publik maupun internal pemerintahan. Ia mengingatkan agar pemerintahan saat ini menjaga soliditas internal dan tidak mudah terpecah oleh kepentingan politik tertentu.

Pada bagian lain, Eko juga menyinggung simbol politik yang menurutnya muncul dalam sejumlah pertemuan elite. Ia menafsirkan hidangan “bebek dan soto” yang disajikan Jokowi kepada para tokoh politik sebagai simbol kepatuhan dan pengikatan dukungan politik.

Di akhir wawancara, Eko mengajak seluruh elite politik untuk lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dibanding kepentingan kelompok maupun keluarga. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan nasional seharusnya dijalankan dengan tanggung jawab moral dan visi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.

Sambungan berita: (***) 
Halaman: 123Lihat Semua