Menu

DWP Siak: Perempuan Punya Peran Besar Menjaga Warisan Budaya dan Tradisi

Lina 28 Aug 2026, 14:40
DWP Siak: Perempuan Punya Peran Besar Menjaga Warisan Budaya dan Tradisi
DWP Siak: Perempuan Punya Peran Besar Menjaga Warisan Budaya dan Tradisi

RIAU24.COM - TERNATE — Menjaga warisan budaya bukan hanya tentang merawat bangunan bersejarah. Di balik keberlangsungan sebuah tradisi, ada peran perempuan yang ikut memastikan resep, keterampilan, nilai keluarga hingga kearifan lokal tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pesan itulah yang disampaikan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Siak, Ny. Erdawati Mahadar, saat mengikuti Ladies Program dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2026 di Kota Ternate, Maluku Utara.

Menurut Erdawati, perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga identitas budaya. Pelestarian budaya, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan situs dan bangunan bersejarah, tetapi juga harus menyentuh tradisi yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Di tangan perempuan resep diwariskan, keterampilan diturunkan, kain ditenun, tradisi dirawat, dan nilai-nilai keluarga diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Erdawati saat mengikuti kegiatan di kawasan cagar budaya Benteng Oranje, Kamis (27/8/2026).

Ia menilai, kuliner tradisional menjadi salah satu bentuk warisan budaya yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Setiap hidangan tidak hanya menyimpan cita rasa, tetapi juga cerita, kebiasaan dan identitas suatu daerah.

Karena itu, Erdawati mengapresiasi pelaksanaan Ladies Program VII yang dinilainya menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui seni, tradisi dan kuliner khas daerah.

“Saya berharap Ladies Program ini menjadi ruang untuk saling mengenal, menginspirasi, dan berbagi pengalaman tentang bagaimana perempuan di berbagai daerah menjaga warisan budaya masing-masing,” tambahnya.

Kenalkan Budaya Ternate Lewat Kuliner

Ladies Program VII dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kota Ternate, Ny. Hj. Marliza M. Tauhid, selaku tuan rumah. Ia didampingi Wakil Ketua I TP PKK Kota Ternate Ny. Nursinta Nasri Abubakar dan Ketua DWP Kota Ternate Ny. Hj. Hasmiati Rizal.

Para peserta diajak mengenal lebih dekat budaya lokal Maluku Utara melalui rangkaian kegiatan yang memadukan gaya hidup sehat dengan kearifan lokal.

Kegiatan diawali dengan yoga pagi, kemudian dilanjutkan dengan Pesona Budaya serta eksibisi memasak kuliner tradisional khas Ternate. Dua sajian yang diperkenalkan adalah Gohu dan Papeda Rempah, dengan bahan utama ikan tuna segar.

Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar mencicipi makanan tradisional. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal proses penyajian serta cerita budaya yang melekat pada kuliner tersebut.

“Kami bersama peserta lainnya tidak hanya menikmati sajian yang diperkenalkan, tetapi juga diajak mengenal cara penyajian serta cerita budaya yang melekat di dalamnya,” tutur Erdawati.

Benteng Oranje Jadi Ruang Belajar Budaya

Pemilihan kawasan cagar budaya Benteng Oranje sebagai lokasi kegiatan semakin memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui Ladies Program.

Benteng bersejarah tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk melihat secara langsung bagaimana sejarah, seni, tradisi dan kuliner dapat berjalan beriringan dalam memperkenalkan identitas sebuah daerah.

Bagi Erdawati, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga budaya merupakan tanggung jawab bersama. Perempuan memiliki peran yang sangat dekat dengan proses pewarisan budaya karena banyak tradisi tumbuh dan bertahan melalui keluarga.

Dari dapur rumah hingga kain yang ditenun, dari cerita orang tua hingga tradisi yang terus dilakukan, perempuan menjadi salah satu mata rantai penting yang memastikan kekayaan budaya tidak berhenti pada satu generasi.

Melalui Ladies Program VII, DWP Siak berharap semakin banyak pengalaman dan praktik baik antardaerah yang dapat dibagikan, sehingga upaya pelestarian budaya Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tumbuh dari keluarga dan masyarakat.

Sebab, ketika perempuan menjaga tradisi, sejatinya mereka sedang menjaga ingatan dan identitas sebuah generasi.(Lin)