Menu

Dari Rembang ke Industri Kreatif, Kisah Penerima Beasiswa Tanoto Foundation yang Jadi Bos Agensi

Devi 16 Sep 2026, 20:19
Dari Rembang ke Industri Kreatif, Kisah Penerima Beasiswa Tanoto Foundation yang Jadi Bos Agensi
Dari Rembang ke Industri Kreatif, Kisah Penerima Beasiswa Tanoto Foundation yang Jadi Bos Agensi

RIAU24.COM -  JAKARTA – Keterbatasan akses tidak selalu menjadi penghalang untuk mengejar masa depan. Kisah itu tergambar dari perjalanan Febrian Putra atau Ditra, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tumbuh di Rembang, Jawa Tengah, hingga akhirnya meniti karier di industri kreatif.

Jauh sebelum internet menjadi sumber utama informasi, Ditra mengandalkan majalah dan tabloid untuk mengenal dunia di luar daerah tempat tinggalnya. Dari lembaran media cetak itulah ketertarikannya terhadap desain dan arsitektur mulai tumbuh.

Rasa ingin tahunya bahkan mendorong Ditra menulis surat kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada awal 2000-an. Ia ingin mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan jika ingin menjadi arsitek.

Surat itu dikirim melalui pos. Namun, balasan yang ditunggu tidak pernah datang.

Alih-alih berhenti, pengalaman tersebut justru membuat Ditra mencari jalannya sendiri untuk mengenal dunia yang selama ini hanya ia lihat dari majalah.

"Sebegitunya saya ingin tahu dunia luar itu kayak apa," kata Ditra.

Dari DKV ITB hingga Agensi Multinasional

Ketertarikannya pada dunia visual semakin kuat ketika duduk di bangku SMA. Ditra aktif membuat majalah dinding sekolah dan mulai menikmati proses mengolah visual sekaligus gagasan.

Setelah lulus SMA, ia sempat mencoba masuk jurusan arsitektur Universitas Gadjah Mada, tetapi gagal. Kesempatan berikutnya datang ketika seorang teman memperkenalkannya dengan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB.

Pilihan itu akhirnya membawa Ditra masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Di kampus, ia mengenal berbagai bidang, mulai desain grafis, multimedia hingga advertising. Justru advertising yang paling menarik perhatiannya karena memberikan ruang luas untuk berpikir kreatif dan menemukan ide.

Pengalaman magang di sejumlah agensi menjadi pintu masuk ke dunia profesional. Setelah lulus, Ditra kemudian berkarier di sejumlah perusahaan advertising, termasuk BBDO, McCann Worldgroup, J. Walter Thompson (JWT), hingga Dentsu.

Bersama tim, ia mengerjakan berbagai kampanye untuk merek global. Sejumlah karya yang dihasilkan bahkan berhasil meraih penghargaan advertising di tingkat nasional maupun internasional.

Beasiswa yang Meringankan Beban Keluarga

Di balik perjalanan karier tersebut, ada dukungan pendidikan yang turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Ditra.

Saat berkuliah di ITB, Ditra merupakan penerima beasiswa Tanoto Foundation.

Bukan hanya bantuan pendidikan, ia juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pengembangan diri. Dari sana, Ditra mendapat pengalaman di luar ruang kelas sekaligus membangun jaringan dengan sesama penerima beasiswa dan alumni.

Beasiswa tersebut juga memiliki arti personal bagi Ditra. Ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMA, sementara ibunya kemudian menjadi orang tua tunggal.

Dukungan beasiswa membuat beban keluarga menjadi lebih ringan. Di saat yang sama, kesempatan mengikuti pelatihan dan membangun jejaring memberinya bekal yang kemudian dibawa ketika memasuki dunia profesional.

"Saya ini tahu Tanoto Foundation itu rapi banget secara organisasi dan programnya. Saat pelatihan, kami juga bisa menjalin komunikasi dengan semua penerima beasiswa, termasuk dengan para alumni sehingga kami bisa membangun networking," ujarnya.

Setelah 15 Tahun, Pilih Bangun Agensi Sendiri

Sekitar 15 tahun bekerja di berbagai agensi advertising membuat Ditra mulai mempertanyakan arah kariernya.

Ia telah merasakan bekerja di perusahaan multinasional hingga berada pada posisi yang membuatnya harus memilih: melanjutkan karier sebagai karyawan atau membangun sesuatu yang dirancang sendiri.

Ditra akhirnya memilih opsi kedua.

"Kalau saya lanjutkan sebagai karyawan di perusahaan agensi, nanti kayaknya bakal gitu-gitu saja. Terus akhirnya saya berpikir, kayaknya seru bikin sendiri," tuturnya.

Sekitar empat tahun lalu, ia mendirikan Animal3 Creative.

Keputusan itu membuat Ditra keluar dari zona nyaman. Jika sebelumnya ia fokus pada ide dan kampanye kreatif, sebagai pendiri agensi ia juga harus memahami bisnis, mengelola tim, sekaligus membangun organisasi dari nol.

Pengalaman tersebut kemudian memperluas pandangannya mengenai industri kreatif. Menurutnya, industri ini membutuhkan talenta dengan pola pikir terbuka. Talenta tersebut tidak harus berasal dari kota besar ataupun memiliki latar belakang tertentu.

Membawa Dunia Advertising ke Sekolah

Pengalaman tumbuh di daerah membuat Ditra melihat ada persoalan lain yang tidak kalah penting: akses informasi.

Menurutnya, anak-anak yang tumbuh di kota besar relatif lebih mudah menemukan informasi tentang sekolah desain, agensi advertising, industri kreatif hingga berbagai profesi baru.

Sementara itu, anak-anak di daerah bisa saja memiliki kemampuan kreatif, tetapi tidak mengetahui bagaimana kemampuan tersebut dapat dikembangkan.

Karena itu, Ditra mulai membawa pengenalan tentang dunia advertising ke sekolah, termasuk kepada siswa SMA dan SMK di Rembang.

Materinya mencakup bagaimana industri advertising bekerja, cara sebuah merek berkomunikasi, memahami audiens hingga mengembangkan ide menjadi kampanye.

Namun, tujuannya bukan sekadar mencetak calon pekerja advertising.

Ditra ingin membuka wawasan anak-anak muda bahwa kemampuan kreatif bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai membangun usaha hingga mengembangkan produk dan kegiatan kreatif lainnya.

"Bukan untuk selalu menjadi pekerja, tapi setidaknya saya ingin kasih informasi, lo bisa melakukan banyak hal nanti," katanya.

Bagi Ditra, perjalanan dari Rembang menuju industri kreatif menunjukkan satu hal penting: kesempatan bisa mengubah arah hidup seseorang.

Karena itu, ia kini berusaha meneruskan kesempatan tersebut kepada generasi berikutnya. Bukan dengan memberikan jalan yang sama, tetapi dengan membuka akses agar anak-anak muda di daerah mengetahui bahwa ada lebih banyak pilihan untuk masa depan mereka. ***