Menjaga Hutan Pulau Padang, Perjuangan Ranger RAPP Merawat Penyangga Kehidupan
RIAU24.COM, MERANTI — Hutan Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, pernah berada dalam kondisi memprihatinkan. Jejak pembalakan liar terlihat di sejumlah kawasan, menyisakan tunggul-tunggul pohon di tengah hutan gambut.
Kini, kondisi itu perlahan berubah.
Kawasan hutan yang sebelumnya tertekan aktivitas penebangan mulai dipulihkan dan dijaga. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui keterlibatan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersama mitranya dalam menjaga dan merestorasi kawasan hutan alam di Pulau Padang.
Hutan tersebut bukan sekadar hamparan pepohonan. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga tata air Pulau Padang, termasuk mempertahankan ketersediaan air di Tasik Putri Puyu.
Sekitar 20.450 hektare kawasan hutan dijaga melalui program konservasi, berdampingan dengan lebih dari 5.000 hektare kawasan konservasi yang dirawat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Keduanya menjadi bagian dari bentang alam yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan masyarakat Pulau Padang.
Ranger Menyusuri Hutan, Memburu Jejak Pembalakan
Menjaga kawasan seluas itu bukan pekerjaan ringan.
Sebanyak 30 penjaga hutan atau ranger disiagakan untuk melakukan patroli rutin. Mereka bertugas memastikan tidak ada aktivitas pembalakan liar, mencegah kebakaran hutan dan lahan, sekaligus memantau kondisi kawasan.
Para ranger berada di bawah naungan Satria Elang Nusantara (SEN), mitra PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN).
Salah seorang ranger, Said Ahmad Jufri, mengatakan pekerjaan tersebut membutuhkan kesabaran. Pria asal Kampung Jawa, Desa Bagan Melibur, Kecamatan Merbau, itu bergabung sebagai penjaga hutan sekitar satu tahun sebelum kisah tersebut ditulis.
Di lapangan, ia bersama rekan-rekannya menggunakan sepeda motor untuk menyusuri batas kawasan. Pada titik tertentu mereka harus meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki masuk ke dalam hutan.
Selain mencari indikasi kerusakan hutan, para ranger juga memantau potensi titik api.
"Kami juga ikut menyosialisasikan larangan merambah hutan kepada masyarakat. Termasuk pencegahan Karhutla," ujar Adong, sapaan Said.
Dua posko ranger ditempatkan di Pulau Padang, masing-masing di Desa Bandul, Kecamatan Tasikputri Puyu, dan Sungai Kuat, Desa Lukit, Kecamatan Merbau.
Sebagian besar ranger merupakan masyarakat lokal. Sekitar 60 persen di antaranya disebut berasal dari masyarakat setempat yang memahami karakteristik wilayah dan hutan gambut Pulau Padang.
Bukan Sekadar Menjaga, Hutan yang Rusak Dipulihkan
Upaya konservasi tidak berhenti pada patroli.
GCN juga menjalankan restorasi untuk memulihkan kawasan hutan yang mengalami kerusakan akibat pembalakan.
Sejumlah jenis pohon asli Pulau Padang ditanam kembali, di antaranya meranti, bintangur, gelam, kelat dan punak.
Asisten Environment PT GCN, M Mulyo, menjelaskan restorasi dilakukan dengan pendekatan Assisted Natural Regeneration (ANR) atau regenerasi alami dengan bantuan manusia.
Metode yang digunakan menyesuaikan tingkat kerapatan pohon di setiap kawasan.
Pada kawasan dengan kerapatan sekitar 200-400 batang per hektare, dilakukan penanaman kembali. Sementara kawasan dengan kerapatan 400-600 batang per hektare mendapat pengayaan vegetasi.
Sedangkan kawasan dengan kerapatan lebih dari 600 batang per hektare lebih diarahkan pada pemeliharaan anakan pohon dengan membersihkan gulma dan belukar di sekitarnya.
Menurut Mulyo, rata-rata 6-10 hektare kawasan direstorasi setiap tahun. Dengan kebutuhan sekitar 400 bibit per hektare, jumlah pohon yang ditanam kembali mencapai sekitar 2.400 hingga 4.000 batang per tahun.
Konservasi Sekaligus Membuka Jalan Ekonomi bagi Warga
Menjaga hutan juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, program kemitraan dengan masyarakat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Salah satu mitra yang terlibat adalah Laskar Alam Riau. Melalui lembaga tersebut, masyarakat mendapatkan bantuan bibit tanaman produktif seperti karet, pinang, dan kopi.
Bantuan tidak hanya berupa bibit. Masyarakat juga mendapat dukungan untuk perawatan dan pemupukan hingga tanaman dapat menghasilkan.
Bendahara Laskar Alam Riau, Yahya, mengatakan program tersebut telah berjalan selama beberapa tahun dengan menyasar sejumlah desa di Pulau Padang.
Pada 2023, lebih dari 3.000 bibit pinang Betara dan kopi liberika kembali disalurkan kepada masyarakat.
Bagi Yahya, pola kemitraan tersebut memberikan manfaat ganda. Masyarakat tidak hanya memperoleh peluang ekonomi, tetapi juga memiliki tanaman produktif yang dapat menjadi sumber penghasilan dalam jangka panjang.
Kemitraan juga membuka peluang pekerjaan.
Koperasi Jasa Tani Merbau Sejahtera yang dipimpinnya, misalnya, membantu menyediakan transportasi sampan bermesin untuk mendukung aktivitas patroli di kanal sekaligus menyalurkan tenaga kerja lokal.
Baca juga: BRK Syariah Perkuat Pendidikan Inklusif, Salurkan Bantuan CSR ke SLB Pelita Nusa Pekanbaru"Total tenaga kerja yang sudah kita salurkan sebanyak 10 orang untuk bekerja di perusahaan. Bahkan tiga orang sudah ada yang jadi mandor. Koperasi kita juga menyediakan transportasi pekerja yang bertugas menyusuri kanal untuk berpatroli," ujarnya.
Menjaga Hutan, Menjaga Air Pulau Padang
Komitmen konservasi di Pulau Padang juga menjadi bagian dari program restorasi ekosistem yang dijalankan APRIL Group melalui Restorasi Ekosistem Riau (RER).
External Affairs Director RER, Nyoman Iswarayoga, mengatakan perusahaan memiliki komitmen memulihkan dan melestarikan satu hektare lahan untuk setiap satu hektare hutan tanaman yang dibangun.
Sejak 2013, RER disebut mulai melakukan pemulihan dan perlindungan terhadap sekitar 150.693 hektare hutan gambut terdegradasi di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.
Program tersebut mencakup perlindungan keanekaragaman hayati, kajian ekosistem dan lingkungan sosial, pemulihan jenis pohon lokal serta perlindungan satwa liar.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Riau saat itu, Ma'mun Murod, mengatakan kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah dalam konservasi Pulau Padang memiliki peran penting bagi keberlanjutan kawasan.
Ia menyebut perusahaan berkewajiban melakukan restorasi terhadap 20.450 hektare hutan, sedangkan BBKSDA Riau merawat lebih dari 5.000 hektare kawasan konservasi Tasik Putri Puyu.
"RAPP melalui GCN sudah melakukan upaya untuk mendukung rencana perlindungan ekosistem gambut (RPEG) di Pulau Padang. Patut kita apresiasi atas konsistensi mereka untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan," kata Murod.
Menurutnya, upaya konservasi juga dilakukan melalui pengaturan tata ruang kawasan, pengembangan tanaman unggulan dan tanaman kehidupan.
RAPP juga membangun stasiun pengamatan tinggi muka air kanal. Pengamatan dilakukan secara rutin untuk memastikan kondisi kebasahan gambut tetap terjaga.
Sekat kanal turut dibangun untuk membantu mengendalikan tata air, terutama menghadapi perubahan kondisi antara musim hujan dan kemarau.
Hutan Lestari, Manfaat Mengalir ke Masyarakat
Bagi Pulau Padang, menjaga hutan berarti menjaga lebih dari sekadar pepohonan.
Hutan menjadi bagian penting dari sistem tata air, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus benteng alami bagi ekosistem gambut.
Tasik Putri Puyu yang hingga kini tetap memiliki ketersediaan air menjadi salah satu gambaran pentingnya kawasan penyangga tersebut.
Namun, keberlanjutan konservasi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Karena itu, penguatan kemitraan ekonomi menjadi salah satu jalan agar warga sekitar mendapatkan manfaat dari keberadaan kawasan hutan tanpa harus merusaknya.
Dengan kombinasi patroli, restorasi, pengelolaan tata air dan pemberdayaan masyarakat, upaya menjaga Pulau Padang diarahkan bukan hanya untuk mempertahankan hutan hari ini, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang. (rw)***