Menu

Bayi 65 Hari di Banjarbaru Kena ISPA saat Karhutla, Rakyat Kecewa Sikap Pemerintah Tangani Bencana

Zuratul • 21 Oct 2026, 16:16
Potret Bayi di Kalimantan yang Menderita Akibat ISPA. (Tayngkapan LAyar/TikTok)
Potret Bayi di Kalimantan yang Menderita Akibat ISPA. (Tayngkapan LAyar/TikTok)

RIAU24.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu aktivitas warga. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang bayi berusia 65 hari didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ketika asap terus menyelimuti lingkungan tempat tinggal keluarganya.

Kisah tersebut disampaikan Nurliana dan Taufik dalam diskusi Catatan Demokrasi bertajuk Api Karhutla Terus Menyala, Asap Meluas ke Mana-Mana. Pengalaman keluarga ini memperlihatkan dampak karhutla yang sering kali tidak terlihat dari data luas lahan terbakar maupun jumlah titik api.

Dalam wawancara terpisah dengan dalam tayangan TvOne pada 15 Oktober 2026, Nurliana menceritakan bahwa anaknya mulai menunjukkan gejala sakit pada awal Oktober. Ia mengatakan, pada 5 Oktober, keluarganya membawa bayi tersebut ke dokter spesialis anak. Saat wawancara dilakukan, anaknya masih menjalani pengobatan.

Nurliana menggambarkan betapa sulitnya melindungi bayi dari asap yang terus datang. Keluarganya bahkan menambah alat penyaring udara di rumah, tetapi upaya itu tidak selalu efektif.

Ia mengatakan alat tersebut terkadang “kadang tidak mempan juga” ketika asap sedang pekat. Kondisi kesehatan suaminya pun ikut terganggu. Menurut penuturannya, batuk yang dialami sang suami semakin parah, bahkan terkadang disertai darah.

“Batuknya parah sampai kadang keluar darah,” kata Nurliana dalam wawancara tersebut.

Bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak, masalahnya bukan hanya bagaimana menghindari asap ketika berada di luar rumah. Asap yang masuk ke dalam rumah membuat perlindungan keluarga menjadi jauh lebih sulit, terutama ketika anggota keluarga masih bayi atau memiliki kondisi kesehatan rentan.

Kesaksian ini menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari jumlah personel yang dikerahkan maupun titik api yang berhasil dipadamkan. Kondisi kesehatan masyarakat yang terpapar asap juga harus menjadi bagian dari evaluasi.

Selama kabut asap masih menyelimuti permukiman, warga tetap menanggung dampak kebakaran. Karena itu, upaya pemadaman perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan, akses pengobatan, serta informasi yang jelas bagi masyarakat di wilayah terdampak.

(zar)