Kesetaraan Dalam Secangkir Kopi
RIAU24.COM - Di Kafe Ruang Setara, secangkir kopi menjadi bagian dari cerita yang lebih besar: perjuangan penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan, penghasilan, dan hak untuk mandiri.
PEKANBARU — Di balik meja barista Kafe Ruang Setara yang terletak di Jalan Abdullah Munsyi, tepat di samping Pascasarjana Universitas Riau (UNRI) Gobah, Pekanbaru, denting sendok beradu dengan toples kaca terdengar lembut.
Mesin penggiling mengeluarkan dengung ketika biji kopi diproses, disusul desis uap bertekanan tinggi saat susu dipanaskan. Bau kopi pun menyeruak tajam, memenuhi kafe mungil bercat putih itu.
Tangan wanita cantik bernama Yulia Vorna tampak begitu lihai saat meracik sajian kopi.
Suguhan kopi espresso itu semakin manis dengan kelihaiannya menyuguhkan kopi dengan sajian art. Menjadi pengalaman sendiri ketika menikmati seduhan dari barista cantik ini. Kopi espresso buatannya itu semakin nikmat melihat aksi Yulia saat meracik kopi.
Sambil meracik kopi, tangan Yulia bergerak menyampaikan pesan kepada rekan kerjanya, Boy Sujatra, barista disabilitas lain, melalui bahasa isyarat. Di Kafe Ruang Setara, komunikasi tak selalu bergantung pada suara. Gerak tangan, tatapan, dan isyarat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.