Menu

Kesetaraan Dalam Secangkir Kopi

Devi • 1 Oct 2026, 18:32
Di Kafe Ruang Setara, kesetaraan dapat ditemukan dalam secangkir kopi
Di Kafe Ruang Setara, kesetaraan dapat ditemukan dalam secangkir kopi

RIAU24.COM - Di Kafe Ruang Setara, secangkir kopi menjadi bagian dari cerita yang lebih besar: perjuangan penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan, penghasilan, dan hak untuk mandiri.

PEKANBARU — Di balik meja barista Kafe Ruang Setara yang terletak di Jalan Abdullah Munsyi, tepat di samping Pascasarjana Universitas Riau (UNRI) Gobah, Pekanbaru, denting sendok beradu dengan toples kaca terdengar lembut. 

Mesin penggiling mengeluarkan dengung ketika biji kopi diproses, disusul desis uap bertekanan tinggi saat susu dipanaskan. Bau kopi pun menyeruak tajam, memenuhi kafe mungil bercat putih itu. 

Tangan wanita cantik bernama Yulia Vorna tampak begitu lihai saat meracik sajian kopi.

Suguhan kopi espresso itu semakin manis dengan kelihaiannya menyuguhkan kopi dengan sajian art. Menjadi pengalaman sendiri ketika menikmati seduhan dari barista cantik ini. Kopi espresso buatannya itu semakin nikmat melihat aksi Yulia saat meracik kopi.

Sambil meracik kopi, tangan Yulia bergerak menyampaikan pesan kepada rekan kerjanya,  Boy Sujatra, barista disabilitas lain, melalui bahasa isyarat.  Di Kafe Ruang Setara, komunikasi tak selalu bergantung pada suara. Gerak tangan, tatapan, dan isyarat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Satu persatu pesanan konsumen disiapkan dengan teliti, sementara kerja sama menjadi kunci agar setiap minuman tersaji sesuai permintaan. Bagi Yulia, meracik minuman bukan sekadar mengikuti tahapan kerja, tentang menakar bubuk kopi atau menyajikan minuman. Tapi di tempat inilah, ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan, dan membuktikan kemampuannya.

Di sudut Ruang Setara, Pekanbaru, secangkir kopi menjadi bagian dari cerita yang lebih besar. Ada perjalanan panjang sebelum Yulia akhirnya menemukan Kafe Ruang Setara ini.

Perempuan kelahiran 1985 itu terlahir tuli. Sejak kecil, ia harus menghadapi pengalaman yang seharusnya tidak dialami seorang anak: perundungan di lingkungan sekolah.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika ia sering diteriaki bisu oleh teman-temannya saat di bangku sekolah dasar di Batusangkar, Sumatera Barat.

“Saya selalu diteriaki bisu sama teman karena saya tuli. Itu terjadi waktu kelas 1 dan 6 SD,” kata Yulia mengenang masa kecilnya yang suram.

Yulia mengaku beberapa kali marah ketika dipanggil dengan sebutan yang menyakitkan itu. 

Namun, kemarahannya tidak membuat ejekan tersebut berhenti. Justru ia kembali menghadapi perlakuan serupa, membuat harapannya untuk diterima seperti teman-teman normal lainnya tak kunjung terwujud. 

Pada akhirnya, Yulia memilih bertahan dengan caranya sendiri.

“Saya pasrah saja,” tuturnya sendu.

Pengalaman itu meninggalkan luka yang cukup dalam dalam perjalanan pendidikannya. Yulia memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar (SD).

“Sudah cukuplah. Yang penting bisa baca, tulis dan berhitung,” katanya.

Tahun-tahun berlalu. Yulia pernah bekerja di toko grosir milik orang tuanya di Payakumbuh. Namun, toko tersebut tutup dan membuatnya memutuskan untuk pindah ke Pekanbaru. Di kota Bertuah ini, perjalanan mencari pekerjaan pun menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan fisik membuatnya sempat menganggur selama setahun.


(Yulia saat melayani konsumen)

Tentu saja, 365 hari bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang yang ingin bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri. Beruntung, keresahan hati Yulia terjawab berkat kesabarannya. Kesempatan untuk kembali menata hidup datang melalui informasi dari seseorang bernama Lianny Rumondo atau yang akrab disapa Kak Lianny. 

Dari Lianny, Yulia mendapat kabar tentang pelatihan barista. 

Peluang itu memperkenalkannya pada keterampilan baru: meracik kopi dan menyiapkan mental untuk memasuki lingkungan kerja yang berbeda.

Meski baru berkecimpung di dunia barista, wanita berambut cepak ini begitu pandai menguasai teknik membuat espresso mulai dari grinding atau menggiling biji kopi, memasukkan kopi ke dalam porta filter (Dosing), meratakan kopi yang ada di wadah (Leveling) hingga memadatkan biji kopi (tamping) dan membuang sisa air di mesin kopi (flassing). Semua itu ia dapatkan dari pelatihan.

"Saya terus berlatih untuk membuat kopi yang enak. Pertama, saya ikut pelatihan dulu. Setelah saya rasa bisa, saya mulai mempraktikkan, ternyata mudah, gampang banget. Menggunakan timbangan kopi juga mudah," kata Yulia dengan mata berbinar.

Tak hanya Yulia, ada tiga karyawan disabilitas lainnya yang bekerja di Ruang Setara. Setiap dari mereka punya cerita yang menarik. Seperti kisah Boy Sujatra (37), yang berprofesi sebagai kasir.

Lelaki yang suka memakai topi tersebut juga memiliki kisah hidup yang mengharukan.

Pernah menempuh pendidikan di SMA Luar Biasa (LB) Melati Rumbai Pekanbaru, Boy tak menolak saat ditanya tentang kehidupan pribadinya. Dengan menggunakan bahasa isyarat, Boy mengaku memiliki empat saudara dan tinggal di Jalan Riau, Pekanbaru.

Diceritakan Boy, ia sudah melanglang buana hingga ke ibu kota untuk mencari kerja. Bahkan ia pernah bekerja sebagai penjahit di sebuah konveksi. Ia mengaku mendapat pekerjaan sebagai kasir di Ruang Setara dari Lianny.

"Saya dapat lowongan kerja di sini dari Ibu Lianny. Saya dihubungi lewat pesan singkat. Saya kemudian mengirimkan lamaran, kemudian dipanggil untuk wawancara dan akhirnya diterima bekerja sebagai kasir," katanya.

Takdir akhirnya membuatnya jatuh cinta dengan Ruang Setara.

"Saya sangat senang bekerja di sini. Tempatnya nyaman dan tenang," katanya.

Begitu juga dengan Cici Fitri Yenti (25) yang bekerja sebagai asisten dapur. Tugas sehari-harinya membantu Riyan (23) yang menjadi koki utama di kafe ini.

Sebelum bergabung di Ruang Setara, Cici tergabung dalam Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Daksa atau Perhimpunan Penyandang Disabilitas Daksa Pekanbaru dan pernah bersekolah di SMA LB Negeri Pembina Pekanbaru.

Ada juga Reni Puspita (43), yang bekerja sebagai helper. Reni pernah bersekolah sebentar di SD LB di Payakumbuh, Sumatera Barat. Setelah itu, dia pun banyak menghabiskan waktu untuk mencari peluang kerja untuk bisa mandiri. Meski tidak memiliki pengalaman akademis yang mumpuni, Reni cukup gesit dalam bekerja. 

Melalui lingkungan kerja yang lebih inklusif, Yulia, Boy, Cici dan Reni kini memiliki kesempatan untuk membangun kepercayaan diri sekaligus menunjukkan kemampuan yang setara.

Ruang Setara, Bukan Sekadar Nama

Kafe Ruang Setara merupakan bagian dari program pemberdayaan CID PHR–SKK Migas dan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) sebagai mitra. Usaha ini dikelola oleh Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera.

Inisiatif tersebut berangkat dari persoalan akses kerja yang masih dihadapi penyandang disabilitas.

“Kafe ini dibentuk oleh SKK Migas dan PHR. Awalnya hanya sebuah koperasi untuk teman-teman disabilitas yang diberi nama Melangkah Bersama Disabilitas Mandiri. Nah, anggotanya itu semua penyandang disabilitas atau keluarga penyandang disabilitas,” kata Lianny yang ditemani Ketua Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera, Imamil Usni, ketika mengawali kisah awal terbentuknya Kafe Ruang Setara.

Lianny yang bertugas menjadi pengawas di Kafe Ruang Setara mengaku mendampingi penyandang disabilitas bukanlah hal yang mudah.

Tugasnya tak hanya sekadar memberi pekerjaan atau tanggung jawab mengelola usaha, namun ada tugas besar lain yang menanti.

Hal itulah yang membuat Lianny sadar, ia harus berjuang untuk para disabilitas di Kafe Ruang Setara karena perjalanan  untuk membentuk penyandang disabilitas menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan andal membutuhkan proses panjang

“Ada kepuasan batin yang jauh lebih besar ketika melihat mereka perlahan tumbuh, mandiri, dan menemukan kepercayaan diri. Saya sangat bersyukur akan hal itu,” ujarnya singkat.

Diungkapkan Lianny, Kafe Ruang Setara didirikan dengan makna Setara agar penyandang disabilitas dapat menjadi diri sendiri dengan keistimewaan yang mereka miliki.

"Kafe ini dibuat dengan konsep siapa pun bisa ke sini, termasuk teman disabilitas. Kafe ini diharapkan menjadi ruang interaksi antara teman disabilitas dan yang tidak disabilitas. Jadi, di tempat ini keduanya bisa belajar memahami satu sama lain," harapnya.

Bagi Lianny, kemampuan karyawan disabilitas tetap perlu diasah melalui pengalaman dan lingkungan kerja yang mendukung.

“Kami juga membantu menciptakan suasana kerja yang baik, menjaga kebersamaan. Jangan dikira semuanya berjalan mulus. Ada banyak dinamika di antara mereka yang harus kita bantu dan segera atasi,” tuturnya.

Di balik kepeduliannya, tersimpan kisah personal yang dimulai sejak 2006.

Lianny ternyata memiliki alasan mendalam mengapa begitu dekat dengan dunia disabilitas.

Meski bukan penyandang disabilitas, ada seseorang yang membuatnya memahami bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Anak saya yang melatarbelakanginya. Dialah motivasi saya untuk ikut membantu teman-teman lainnya,” ungkap Liani.

Sambil mengucapkan kalimat itu, pandangannya tertuju pada Julio, putra semata wayangnya yang kini berusia 27 tahun.

Dari perjalanan sang anak, Lianny menemukan alasan untuk memperluas kepeduliannya.

Kini apa yang awalnya berangkat dari pengalaman keluarga, kini tumbuh menjadi komitmen untuk membuka kesempatan bagi lebih banyak penyandang disabilitas agar dapat bekerja, berkembang, dan hidup mandiri.

"Saya berharap dengan perpaduan sajian kuliner dan misi sosial, Kafe Ruang Setara bukan hanya menyajikan secangkir kopi. Ada kesempatan kerja yang tumbuh, kemandirian ekonomi yang diperjuangkan, dan ruang perjumpaan yang membantu masyarakat memahami bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berkarya," tutupnya.

Imamil Usni juga berharap keberadaan kafe Ruang Setara bisa membantu mengatasi kesulitan penyandang disabilitas dalam memperoleh pekerjaan.

"Insya Allah, keberadaan Ruang Setara dapat membantu mengatasi permasalahan teman-teman disabilitas yang selama ini kesulitan mendapatkan pekerjaan. Selain menjadi tempat usaha, kafe ini juga menjadi ruang perjumpaan antara penyandang disabilitas dan masyarakat umum," ujarnya.

Yang menarik, pengunjung di kafe ini bahkan berkesempatan belajar bahasa isyarat secara langsung dari karyawan tuli.

Interaksi yang berlangsung di meja kasir atau saat memesan minuman dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka.

"Belanja sekaligus belajar dan beramal. Kami ingin membuka ruang interaksi, menghilangkan stigma, serta menghadirkan harapan dan peluang yang lebih luas bagi teman-teman disabilitas," kata Imamil.

Saat ditanyakan tentang detail penghasilan para pekerja disabilitas ini, Imamil menyebutkan bahwa karyawan memperoleh gaji yang lumayan.

''Lumayanlah. Untuk supervisor mendapatkan gaji Rp 3,5 juta, bagian dapur atau barista Rp 1,8 juta dan untuk helper Rp 1,5 juta. Pertamina Hulu Rokan (PHR) membantu gaji mereka selama tiga bulan. Sementara itu, untuk sewa tempat, PHR memberikan dukungan dua tahun lamanya. Soal peralatan dan perangkat kafe, semuanya dibantu. Saat ini untuk operasional kafe kami menghabiskan sekitar Rp 17-18 juta. Tapi meski dibantu oleh PHR, ini menjadi tantangan bagi kami. Kami dituntut untuk mandiri setelah periode bantuan ini berakhir. Kami yakin bisa meraih omzet yang bagus. Tolong bantu dipromosikan ya,’’ ujar Imamil.

Ketika Pelatihan Membuka Pintu Kemandirian Ekonomi

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pemberdayaannya terus mendorong pengembangan keterampilan dan usaha produktif bagi penyandang disabilitas. Sebanyak 195 penyandang disabilitas telah memperoleh pelatihan dan kesempatan mengembangkan usaha produktif. Bidang keterampilannya mencakup barista, usaha kuliner, layanan laundry sepatu, hingga terapi pijat bagi penyandang tunanetra.

Program tersebut juga mendorong terbentuknya ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan peningkatan keterampilan, operasional usaha, dan koperasi disabilitas. Tujuannya agar manfaat program tidak berhenti ketika pelatihan selesai.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau, Zulfadli, turut mengapresiasi inisiatif PHR. Ia menilai Cafe Ruang Setara merupakan salah satu bentuk upaya membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, sejalan dengan amanat Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2025.

"Kami mengucapkan terima kasih. Pertamina Hulu Rokan telah mengimplementasikan amanat Perda Provinsi Riau Nomor 9 Tahun 2025. Melalui Kafe Ruang Setara, PHR telah melangkah lebih maju dalam membuka kesempatan kerja bagi teman-teman disabilitas. Ini menjadi contoh nyata bahwa dunia usaha dapat berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif," katanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjadikan Ruang Setara sebagai model pemberdayaan penyandang disabilitas yang berkelanjutan. Sekaligus membangun lingkungan yang lebih inklusif, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, belajar, dan berkembang.

Sebagai informasi, berdasarkan data yang dihimpun dari BPS dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengungkapkan jumlah penyandang disabilitas di Indonesia diperkirakan mencapai 22,5 juta hingga 22,97 juta jiwa atau sekitar 8,5 persen dari total populasi.

Besarnya populasi tersebut belum sebanding dengan kesempatan yang tersedia.

Data mencatat tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas baru mencapai 21,65 persen.

Sementara itu, sekitar 17,85 persen penyandang disabilitas berusia di atas lima tahun, belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Masih terbatasnya pusat-pusat pelatihan kerja ramah disabilitas di seluruh daerah di Riau membuat saya mengunjungi UPT PPD Daksa (Unit Pelaksana Teknis Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Daksa Dinas Sosial Provinsi Riau) terletak di Jl. Yos Sudarso KM 9, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Di sana saya bertemu dengan Kepala UPT Dinsos Riau Anahartini Ropaniputri, SE, MM. 

Disebutkan Ana, menurut data BPS terakhir, jumlah penyandang disabilitas di Riau mencapai 85.000 orang.

"Saat ini para penyandang disabilitas ada yang tergabung dalam 31 panti asuhan yang tersebar di seluruh daerah,’’ katanya.

Dikatakan wanita berkacamata itu, pihak Dinas Sosial secara berkelanjutan memberikan peluang seluas-luasnya kepada para penyandang disablitas untuk mandiri serta diberikan rehabilitasi dasar dan bantuan makan, sandang dan pangan. 

‘’Saat ini yang ada di UPT kebanyakan dari disabilitas tuli dan daksa. Pelatihan kemandirian terus dilakukan, supaya mereka bisa melakukan interaksi sosial, bisa kembali ke masyarakat, dan bisa bekerja,’’ katanya.

Ana menyebut saat ini di UPT terdapat 36 orang dan 30 orang sudah mendapatkan kemampuan dari berbagai pelatihan yang ditaja UPT Daksa Dinsos Riau bersama perusahaan swasta di Pekanbaru.

‘’Kita juga terus bekerjasama untuk menyalurkan kemandirian mereka. Kini ada juga jaringan toko waralaba yang sedang kita proses untuk bisa menampung banyak penyandang disabilitas dalam bekerja,’’ ujarnya..

Ana berharap lebih banyak kuota pembinaan bagi penyandang disabilitas lainnya.

“Kami berharap supaya ke depannya banyak pelatihan seperti ini. Terima kasih kepada PHR yang telah memberi kesempatan kepada anak-anak disabilitas sehingga memiliki aktivitas bermanfaat untuk kehidupannya,’’ sebut wanita berkulit putih ini.

Setali tiga uang dengan harapan Ana, bendahara Aliansi Disabilitas Nasional Provinsi Riau, M .Seldy Febryansah mengungkapkan jika pemenuhan hak penyandang disabilitas di Provinsi Riau dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam akses terhadap pelatihan kerja yang adaptif dan inklusif.

Keterbatasan tersebut dinilai Seldy menjadi salah satu faktor yang menghambat penyandang disabilitas untuk mencapai kemandirian ekonomi sekaligus memperoleh kesempatan yang setara di dunia kerja.

‘’Persoalan kompetensi kerap dijadikan alasan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja disabilitas harus dilihat secara lebih menyeluruh. Jika penyandang disabilitas dinilai belum memenuhi kebutuhan industri, maka pemerintah dan dunia usaha juga harus memastikan tersedianya akses pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan ragam disabilitas,” kata Selby, Rabu, 9 September 2026 lalu.


(M Seldy Febryansah)

Sebagai aktivis yang bergerak di lapangan, Seldy melihat langsung betapa besarnya potensi dan tekad teman-teman disabilitas di Riau. “Kami tidak meminta keistimewaan, kami hanya menuntut hak yang setara, hak atas akses pelatihan kerja yang inklusif dan kesempatan kerja yang adil," ujarnya.

Menurut Seldy, pelatihan kerja yang masif dan disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas dapat memberikan dampak positif. 

“Dengan meningkatkan daya saing di pasar kerja melalui pelatihan digital marketing, administrasi maupun keterampilan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri, dapat membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk membangun usaha secara mandiri,” ujarnya lagi.

Seldy menambahkan, kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri dan martabat penyandang disabilitas sebagai bagian dari masyarakat.

Seldy berharap Pemerintah Provinsi Riau bersama pemerintah kabupaten/kota dan sektor swasta membangun sistem pelatihan kerja yang mudah bagi penyandang disabilitas.

"Kita tidak bisa hanya memberikan pelatihan tanpa memikirkan kemana setelah mereka selesai mengikuti pelatihan. Sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, komunitas disabilitas dan dunia industri perlu diperkuat. Harus ada keterhubungan dengan dunia industri, dunia usaha dan peluang kewirausahaan," tegasnya.

Kafe Ruang Setara Cetak Omzet Rp67 Juta

Officer CID Zona Rokan South Pertamina Hulu Rokan (PHR), Lidia Sari, mengatakan Kafe Ruang Setara merupakan bagian dari program pembinaan kelompok disabilitas yang diinisiasi PHR melalui program Pemko Pesmina (Program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina). Program ini memberikan pelatihan keterampilan mulai dari barista hingga kuliner, agar penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensi dan memiliki kesempatan untuk bekerja.

''Pemko Pesmina dirancang khusus untuk memberdayakan kelompok penyandang disabilitas agar mereka memiliki kemandirian ekonomi, keterampilan praktis, dan ruang inklusif untuk bekerja. Karena kami melihat keterbatasan peluang kerja bagi teman-teman disabilitas. Kami pun melakukan diskusi dengan tim UPT PPD dan menjelaskan rencana program kerja. Dari pertemuan itu, kami membuat rancangan program sehingga muncullah kafe disabilitas," ungkap Lidia.

Sebelum kafe beroperasi, PHR terlebih dahulu melakukan penguatan kapasitas kelompok penyandang disabilitas. 

Pembinaan dimulai dari pelatihan dasar pengelolaan keuangan dan kewirausahaan, penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi, hingga pelatihan keterampilan kerja.

"PHR memilih konsep kafe inklusif karena ingin menciptakan ruang yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas untuk berperan aktif di dunia kerja," ujar Lidia.

Menurutnya, kehadiran kafe ini bukan sekadar menyediakan tempat yang ramah bagi penyandang disabilitas, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk bekerja, belajar, mengembangkan keterampilan, hingga membangun usaha secara mandiri.

“Untuk tahap awal, kami baru membina Kafe Ruang Setara di Pekanbaru,” kata Lidia.

Dalam sekitar tiga bulan beroperasi, kafe yang melibatkan kelompok penyandang disabilitas tersebut berhasil membukukan omzet sekitar Rp67 juta. Capaian ini menjadi salah satu indikator awal keberhasilan program Pemko Pesmina yang dijalankan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sejak 2025 di wilayah Ring 1 operasional perusahaan.

Lidia menjelaskan bahwa Ruang Setara bukan program yang dibangun secara instan. Menurutnya, tantangan pemberdayaan tidak berhenti ketika peserta menyelesaikan pelatihan atau sebuah usaha mulai beroperasi. Kemampuan sumber daya manusia, pengelolaan bisnis, dan aksesibilitas fasilitas tetap membutuhkan pendampingan agar usaha dapat bertahan dan berkembang.

''Bagi perusahaan, keberhasilan program tidak semata diukur dari besarnya omzet, melainkan sejauh mana kelompok penyandang disabilitas mampu mengelola usaha secara mandiri dan tetap berkembang ketika pendampingan berkurang," jelas wanita bertubuh mungil ini.

Pengalaman Ruang Setara kini juga menjadi bahan pembelajaran bagi PHR untuk menjajaki penerapan konsep serupa di wilayah operasional lainnya. Dikatakan Lidya, PHR membuka kemungkinan menghadirkan kafe serupa di Duri dan Dumai,

“Tidak tertutup kemungkinan PHR akan membina dan mendirikan kegiatan serupa di Duri maupun Dumai. Kami akan membuka pelatihan di dua wilayah tersebut sebagai upaya memperluas kesempatan kerja dan pemberdayaan penyandang disabilitas,” kata Lidya.

Namun, pengembangan tersebut tidak berarti menyalin model kafe yang sama di setiap daerah. PHR terlebih dahulu perlu melihat kebutuhan, potensi penerima manfaat, serta kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

"Yang paling penting bagi PHR bukan sekadar mereplikasi bentuk kafenya, tetapi memastikan prinsip pemberdayaan, inklusivitas, kemandirian, dan keberlanjutan dapat diterapkan sesuai dengan konteks masing-masing wilayah," tutup Lidia.

Kini tak hanya jadi tempat sekedar menikmati secangkir kopi, Ruang Setara hadir membawa pesan, jika penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan ruang untuk diterima, tetapi juga kesempatan untuk bekerja, memperoleh penghasilan dan membangun kepercayaan diri.

Ruang Setara menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

Dengan kesempatan dan dukungan yang tepat, penyandang disabilitas dapat tumbuh mandiri dan menjadi bagian dari masyarakat. 

Karena di Ruang Setara, kesetaraan dapat ditemukan dalam secangkir kopi. ***