Menu

Mantan Presiden Negara Produsen Minyak Ini Bantah Sebagai Aktor Intelektual Rencana Kudeta

Riki Ariyanto 9 Oct 2019, 03:52
Mantan presiden Ekuador Rafael Correa dituduh memicu kerusuhan terburuk di negaranya oleh Presiden Lenin Moreno (foto/int)
Mantan presiden Ekuador Rafael Correa dituduh memicu kerusuhan terburuk di negaranya oleh Presiden Lenin Moreno (foto/int)

RIAU24.COM -  Rabu 9 Oktober 2019, Mantan presiden Ekuador Rafael Correa dituduh memicu kerusuhan terburuk di negaranya oleh Presiden Lenin Moreno. Bahkan Rafael Correa juga dituding sebagai aktor intelektual atau pihak yang mengatur kudeta terhadap pemerintahan yang sah.

Seperti dilansir dari Sindonews, Correa langsung membantah dirinya mengatur kudeta terhadap pemerintah negara produsen minyak itu. Correa menolak tudingan Presiden Equador, Lenin Moreno bahwa dirinya berupaya menggulingkannya dengan bantuan dari Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

zxc1

"Mereka adalah pembohong. Mereka bilang saya sangat kuat sehingga dengan iPhone dari Brussels saya bisa memimpin protes," sebut Mantan presiden Ekuador Rafael Correa.

"Orang-orang tidak tahan lagi, itu kenyataan," sambungnya, merujuk pada langkah-langkah penghematan yang dibawa oleh Moreno dengan dukungan dari IMF seperti dikutip dari Reuters, Rabu (9/10/2019).

zxc2

Correa, yang tinggal bersama istrinya di sebuah kota kecil di selatan Brussel, dengan tegas dan keras mengkritik tajam pemerintahan yang dipimpin Moreno. Correa sebut pemerintah sudah jatuh dan ia tidak mengharapkan Moreno, yang berada di kota pelabuhan selatan Guayaquil, kembali ke Quito untuk memerintah sementara protes berlanjut.

"Mengapa mereka tidak mengumumkan pemilu dimajukan," sebut Correa, menyerukan warga Ekuador untuk menggunakan hak untuk melawan apa yang ia sebut penindasan pemerintah.

Jika rakyat menginginkan dirinya kembali mencalonkan diri sebagai wakil presiden, Correa menyatakan siap. "Jika perlu, saya akan kembali. Saya harus menjadi kandidat untuk sesuatu, misalnya, wakil presiden,” ujar Correa.

Sementara mengenai dirinya yang berada di Venezuela, Correa menyebut dirinya mencari nafkah di Brussels sebagai konsultan untuk pemerintah Venezuela.

Hanya saja Correa membantah punya hubungan langsung dengan Maduro di Venezuela, yang dituduhkan Prancis, Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Amerika Latin sebagai diktator ketika krisis politik dan ekonomi semakin dalam di Venezuela.

Namun dia juga menuduh AS dan Uni Eropa munafik karena menjatuhkan sanksi ekonomi pada pemerintah Venezuela, yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Correa, yang mengatakan sedang mengerjakan lima buku berbeda, membela keputusannya untuk tinggal di Belgia negara asal istrinya setelah meninggalkan kantor kepresidenan pada 2017.

Correa sendiri di Ekuador sedanf menghadapi 29 dakwaan berbeda terhadapnya, dari korupsi hingga penyalahgunaan kekuasaan. Correa tidak mau ke negaranya kecuali situasi politik berubah.