Menu

Atasi Banjir, Dr M. Ikhsan : Pemko Harus Lebih Serius Menata Sungai-sungai di Dalam Kota

Satria Utama 24 Jun 2020, 22:52
Acara bincang-bincang di Kedubes Coffee dengan narasumber Dr. M.Ikhsan
Acara bincang-bincang di Kedubes Coffee dengan narasumber Dr. M.Ikhsan

RIAU24.COM -  Di usianya yang menginjak 236 tahun, Kota Pekanbaru masih dibayang-bayangi sejumlah permasalahan klasik yang belum dapat diselesaikan hingga saat ini, di antaranya persoalan banjir dan penanganan sampah. Buruknya drainase dan belum maksimalnya pengolahan sampah menjadi penyebab kedua problem tersebut membuat citra Pekanbaru sebagai kota Metropolitan belum sepenuhnya terealisasi.

Potret Kota Pekanbaru di usianya yang ke-236 ini dikupas dalam acara obrolan santai di Kedubes Coffee Pekanbaru, Rabu sore (24/6/2020). Tampil sebagai narasumber dalam obrolan tersebut, Dr. Ir. Muhammad Ikhsan, pakar perkotaan dan tata ruang Riau.

Menurut Dr. Ikhsan, banjir yang kerap terjadi di Pekanbaru jika hujan turun dengan lebat disebabkan karena selama ini tidak ada perencanaan yang baik dalam pembangunan drainase, sehingga antara satu drainase dengan drainase yang lain banyak yang teruputus atau tidak mengalir hingga ke sungai-sungai yang ada di tengah kota.

"Ini diperparah dengan banyak sungai dan saluran drainase yang dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab demi mendapatkan keuntungan dalam pembangunan kawasan perumahan atau pertokoan," ujarnya.

Ditambahkan Ikhsan, untuk mengatasi persoalan klasik tersebut sesungguhnya tidak sulit asal ada kemauan dan didukung kebijakan anggaran. Namun yang paling penting, perencanaannya harus matang. "Harus dibuat masterplan yang baik, berdasarkan data yang valid di lapangan. Mana kawasan yang selama ini jadi langganan banjir, mana kawasan yang drainasenya bermasalah, mana yang aliran sungainya menyempit, sehingga nantinya pembangunan yang dilakukan benar-benar terarah," jelasnya.

Ikhan mengakui, bahwa sudah ada upaya yang dilakukan Pemko ke arah itu. Masterplan penanganan banjir sudah disusun. Namun, hal itu harus ditindaklanjuti dengan kebijakan anggaran. "Saya berharap agar anggaran untuk mengatasi banjir ini jadi prioritas, jangan melulu untuk membiayai perkantoran Pemko yang baru di Tenayan," katanya.

Menurut Ikhsan, penataan sungai-sungai yang ada di dalam kota perlu dilakukan secara serius. Karena selain akan dapat menjadi salah satu solusi atas persoalan banjir, juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana wisata.

"Jadi konsep water front city itu, bukan hanya diterapkan di sungai Siak, tapi juga-sungai-sungai yang ada di dalam kota, seperti sungai Sail. Kalau aliran sungai Sail dan anak-anak sungainya dibersihkan dan dikelola dengan baik, maka bisa jadi sarana wisata. Masyarakat bisa wisata air, naik perahu atau mengayuh kano menyusuri sungai tersebut," jelasnya.

Terkait pengelolaan sampah, Dr.Ikhsan mengungkapkan perlunya partisipasi publik untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah. "Salah satu ciri masyarakat metropolis adalah tingkat kesadaran akan lingkungannya yang baik dan mau berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan. Tidak ada salahnya jika diwaktu-waktu tertentu membuat gerakan hari bebas sampah atau gerakan bersih-bersih sungai. Ini tentu akan sangat membantu. Atau paling tidak diawali dari rumah dengan melakukan gerakan pemilahan sampah yang organik dan nonorganik," ungkapya.  

Obrolan di Kedubes Coffee tersebut berlangsung santai dan hangat sejumlah pengunjung yang sedang menikmati kopi aren di kedai kopi yang berlokasi di Jl. Arrosyidin, Arengka, Pekanbaru itu, juga ikut nimbrung dan bertanya kepada Dr. Muhammad Ikhsan.***