Menu

Pesawat dan Kapal Perang AS Terus Menerus Kepung China, Bakal Segera Perang?

Siswandi 28 Jul 2020, 11:55
Pesawat mata-mata (ilustrasi). Foto: int
Pesawat mata-mata (ilustrasi). Foto: int

RIAU24.COM -  Hubungan panas yang tengah terjadi antara Amerika Serikat dan China, tampaknya masih akan terus berlanjut. Sejauh ini, aksi saling balas secara militer masih terus berlangsung antara kedua belah pihak. Apakah ini pertanda bahwa perang bakal segera pecah?

Sejak beberapa hari belakangan ini, militer Amerika Serikat (AS) terus melakukkan manuver baik di udara mau pun laut. Yang terbaru, aksi itu terjadi di kawasan perbatasan antara China daratan dan Taiwan.

Dilansir rmol yang merangkum sputnik, Selasa 28 Juli 2020, manuver milter AS itu terjadi pada Minggu (26/7/2020). Sebuah lembaga think tank Universitas Peking, South China Probing Initiative (SCPI) menyebutnya sebagai bagian dari operasi bersama. 

Menurut laporan SCPI, pesawat mata-mata AS, EP-3E Aries tampak terbang dari perairan pantai Provinsi Fujian di China, memasuki Selat Taiwan sebelum akhirnya berbalik kembali. 

Sementara itu, di Laut China Timur, sebuah pesawat patroli maritim Angkatan Laut AS, P-8A Poseidon juga tampak terbang di dekat kapal perusak USS Rafael Peralta. Poseidon sendiri terbang sangat dekat dengan Shanghai, yaitu hanya 41 mil dari Pantai Zhejiang. 

Keesokan harinya, Senin (27/7/2020), giliran pesawat mata-mata RC-135W Rivet Joint yang dilengkapi sinyal peralatan intelijen, tampak terbang di ujung selatan Taiwan sebanyak dua kali dalam perjalanannya ke Laut China Selatan dari Laut Filipina, sebelum akhirnya kembali berputar. 

Ada kesan, seolah-olah pesawat tersebut melanggar ruang udara Taiwan. Untuk diketahui, terbang di dekat perairan China adalah sebuah aksi provokatif. Namun terbang di atas langit Taiwan tentu akan dianggap Beijing sebagai bagian dari pelanggaran wilayah udaranya sendiri. 

Jika laporan SCSPI akurat, maka itu akan menjadi kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir AS melanggar wilayah udara Taiwan. Sebelumnya, pada 8 Juni, pesawat kargo Clipper C-40A milik Angkatan Laut AS juga melintasi pulau tersebut. 

Namun demikian, Angkatan Udara Taiwan mengatakan, jalur penerbangan RC-135W yang disampaikan oleh SCSPI tidak benar. Pesawat mata-mata AS tersebut tidak terbang di atas Taiwan. 

Laporan Sputnik menyebutkan, pesawat militer AS ternyata sudah terbang dekat wilayah udara China selama 12 hari berturut-turut. Sebagai bagian dari peningkatan patroli di laut lepas pantai timur dan selatan China sejak April. 

Aksi AS tersebut diduga sebagai balasan atas aksi yang sama yang dilakukan oleh China terhadap Taiwan dan Laut China Timur. Pasalnya, pesawat militer Cina dituding kerap terbang di dekat wilayah udara Taiwan dan sempat memasuki Laut China Timur. 

Masih Jauh 
Ketika ditanya mengenai potensi perang besar dari berbagai provokasi keduanya, Direktur SCSPI, Hu Bo mengatakan peluang tersebut cukup kecil. 

"Meskipun AS telah berusaha untuk memisahkan diri dengan China, mereka masih berhubungan erat. Jadi peluang terjadinya konflik skala besar itu kecil. Tetapi konflik skala menengah atau kecil mungkin terjadi, seperti dua kapal perang saling menabrak atau sesekali terjadi baku tembak, karena kapal perang dan pesawat kedua negara saling bertemu setiap hari," jelasnya. ***