China Makin Ganas Intimidasi Taiwan, Kerahkan 25 Pesawat Tempur Masuki Kawasan Udara Taiwan

Selasa, 13 April 2021 | 13:41 WIB
Ilustrasi/net Ilustrasi/net

RIAU24.COM -  Upaya China mengintimidasi Taiwan semakin menjadi-jadi. Mereka terus mengerahkan pesawat tempurnya untuk bermanuver dan masuk ke ruang pertahanan udara (ADIZ) Taiwan. Hal itu terjadi saat Amerika Serikat (AS) memperingatkan 'meningkatnya agresivitas China'. 

Baca Juga: Pasukan Israel Membunuh Pengunjuk Rasa Palestina di Tepi Barat

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada Selasa (13/4),  25 pesawat termasuk pesawat tempur dan pengebom nuklir terbang di ruang udara mereka. Jumlah ini merupakan rekor baru yang dilakukan China.

Kementerian Pertahanan mengatakan mereka berhasil mengusir pesawat China. Taiwan menggunakan sistem rudal untuk memantau pergerakan pesawat-pesawat China itu. Beberapa bulan terakhir, Beijing menggelar penerbangan rutin di atas perairan internasional antara selatan Taiwan dan Pulau Pratas yang dikelola Taiwan di Laut China Selatan.

Pesawat-pesawat China terlibat terbang di selatan-barat ADIZ Taiwan dekat Pulau Pratas. Insiden terbaru terjadi satu hari setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan AS khawatir dengan 'meningkatnya agresivitas' China terhadap Taiwan.

Dalam wawancaranya dengan NBC, ia menegaskan kembali, AS memiliki komitmen terhadap Taiwan dan Washington akan 'memastikan Taiwan memiliki kemampuan untuk membela dirinya sendiri'.

Baca Juga: Tak Cuma Bantai Rakyat Palestina, Israel Juga Lecehkan Alquran, Kutip Surah Al Fiil Untuk Legitimasi Pemboman

"Akan menjadi kesalahan serius bila ada yang mencoba mengubah status quo dengan paksaan," katanya.

Pengamat mengatakan, Beijing semakin khawatir dengan pergerakan Pemerintah Taiwan akan mendeklarasikan kemerdekaan resmi. China juga tampaknya ingin memperingatkan Presiden Tsai Ing-wen agar tidak mengambil langkah tersebut.

Namun, Presiden Tsai berkali-kali menegaskan, Taiwan sudah menjadi negara berdaulat sehingga deklarasi kemerdekaan resmi tidak diperlukan lagi. Pulau itu memiliki konstitusi, militer, dan pemimpin yang dipilih dengan demokratis. China tidak mengesampingkan kemungkinan menggunakan kekuatan untuk memaksa unifikasi dengan Taiwan.***

PenulisR24/saut


Loading...
Loading...