Saat Hidup suka Mengkafir-Kafirkan Orang, Begitu Mati Jasad Muhallim Langsung Ditolak Bumi

Sabtu, 17 April 2021 | 21:31 WIB
Ilustrasi kuburan di Arab Saudi. Foto: republika.co.id Ilustrasi kuburan di Arab Saudi. Foto: republika.co.id

RIAU24.COM - Pada masa Rasulullah Sallahualaihiwassalam, menuduh orang kafir pada seseorang tanpa bukti akan berakibat fatal.

Tak hanya itu, Rasullullah juga tak menyenangi orang yang mengucap kata-kata itu.

Kisahnya terjadi ketika memasuki 8 Hijriah di era Rasulullah dikutip dari sindonews.com.

Baca Juga: 20 Nama Perusahaan yang Sumbang Sampah Plastik Terbanyak di Dunia, Cemari Lautan dan Krisis Iklim

Ketika itu, Rasul mengutus sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Abu Qatadah Al-Anshari ke gunung Adham dekat kota Makkah untuk mengecoh musuh.

Di sana mereka bertemu ‘Amir bin Al-Athbat.

Baca Juga: Ratusan Orang Berkumpul dan Mengamuk di Depan Kedutaan Israel di Kota-kota di Amerika

Di luar dugaan, salah seorang prajurit bernama Muhallim bin Juttsamah justru membunuhnya karena menganggapnya ‘Amir bin Al-Athbat sebagai kaum kafir alias tidak beriman.

Akhirnya peristiwa itu pun sampai kepada Rasulullah SAW dan turunlah ayat:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا (النساء: 94)

Artinya: Dan janganlah kalian katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian: ‘Kamu tidak beriman. (An-Nisa: 94)

Beberapa hari kemudian, Muhallim menghadap Rasulullah SAW agar dimintakan ampunan kepada Allah Ta’ala atas perbuatannya.

Respon Rasul kala itu tak hanya menolak.

Tapi juga bersabda: “Allah tidak akan mengampunimu.”

Muhallim beranjak pergi penuh penyesalan dan menangis sejadi-jadinya. Tujuh hari kemudian ia meninggal dan ketika akan dikuburkan bumi enggan menerimanya.

Karena bingung, orang-orang menghadap Rasulullah untuk meminta petunjuk. Lalu beliau bersabda:

إِنَّ الْأَرْضَ تَقْبَلُ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْ صَاحِبِكُمْ، وَلَكِنَّ اللهَ أَرَادَ أَنْ يَعِظَكُمْ مِنْ حُرْمَتِكُمْ.

Artinya: Sungguh bumi menerima orang yang lebih buruk dari teman kalian itu, namun Allah berkehendak menasehati kalian atas kemuliaan kalian.” (Ismail bin Katsîr Ad-Dimasyqi, Tafsîr Al-Qur’âil Karîm, [Giza, Muassasah Qurthubah: 1421 H/2000 M], cetakan pertama, ed: Musthafa As-Sayyid Muhammad, dkk., juz IV, halaman216-218).

PenulisR24/azhar


Loading...
Loading...