Warisi Darah Pemberani Ayahnya, Putri Almarhum Jenderal Iran Ini Ajak Lakukan Aksi Intifadah Melawan Israel

Rabu, 12 Mei 2021 | 14:21 WIB
Zeinab Soleimani Zeinab Soleimani

RIAU24.COM -  Darah pejuang yang gagah berani Jenderal Qaseem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Al Quds Iran yang terbunuh dalam serangan di Bandara Baghdad, Iran, beberapa waktu lalu ternyata menurun pada sang putri, Zeinab Soleimani.

Hal ini terlihat saat Zeinab dengan tegas menentang kebiadaban zionis Israel atas rakyat Palestina. Dia menolak pembicaraan sebagai opsi untuk menyelesaikan masalah Palestina.

Baca Juga: Hantamkan Mobilnya ke Tentara Israel, Wanita Palestina Ditembak Mati

“Menurut pendapat saya, ada dua solusi untuk rakyat Palestina; pertama adalah intifada terhadap penindasan Israel,” ujar Zeinab kepada saluran berita al-Mayadeen dalam rangka Hari Quds Internasional, dikutip Inews dari Farsnews, Rabu (12/5/2021).

“Alhamdulillah, kami melihat bahwa orang-orang terus berdiri teguh melawan penindasan ini dan tidak tinggal diam akan apa yang terjadi di negara mereka, "kata Zeinab.

Dalam wawancara itu dia juga berpandangan Palestina butuh dukungan dari negara-negara lain. Tidak hanya itu, organisasi internasional dan lembaga-lembaga hak asasi manusia perlu berada dalam satu barisan dengan Palestina.

Zeinab Soleimani kembali menyatakan penolakannya dengan perundingan dan konsesi kepada rezim Zionis sebagai cara untuk menyelesaikan masalah Palestina, dengan mengatakan bahwa Palestina akan dibebaskan sekarang jika perundingan menghasilkan dampak.

Baca Juga: Dikhawatirkan Sakit Jantung, Kim Jong Un yang Semakin Kurus Belum Tunjuk Penerusnya

Hari Quds Internasional merupakan acara tahunan yang menentang pendudukan Israel di Baitul Maqdis.  Unjuk rasa dan demonstrasi anti-Zionis diadakan pada hari Jumat terakhir Ramadan di negara-negara Muslim dan Arab di seluruh dunia, khususnya di Iran, serta sejumlah besar negara non-Muslim.

Hari Quds Internasional dimulai oleh almarhum Pendiri Republik Islam, Imam Khomeini, pada 1979 sebagai cara untuk mengekspresikan solidaritas dengan Palestina dan menggarisbawahi pentingnya Quds suci bagi umat Islam.

Sementara, intifada yang secara harfiah berarti melepaskan diri, dimaknai sebagai perlawanan. Dalam Israel-Palestina, Intifada mencakup seluruh gerakan perlawanan untuk merebut kembali tanah Palestina dari rezim zionis.

Intifada Palestina pertama terjadi pada 1987 dan berakhir pada 1993 dengan ditandatanganinya Persetujuan Oslo dan pembentukan Otoritas Nasional Palestina.***

 

PenulisR24/saut


Loading...
Loading...