Menu

Angka Kelahiran di China Turun Parah, Penyebabnya Bukan Karena Tak Ingin Menikah, Tapi...

Azhar 28 May 2021, 07:50
Ilustrasi. Foto: Internet
Ilustrasi. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Jumlah pertumbuhan penduduk di China turun ke level terendah sejak 1960-an. Hal ini diketahui setelah pemerintah setempat melakukan sensus penduduk yang dilakukan sekali dalam satu dekade.

Sensus juga menunjukkan bahwa sekitar 12 juta bayi lahir tahun lalu mengalami penurunan yang signifikan dari 18 juta pada 2016 dikutip dari bbc.com, Jumat, 28 Mei 2021.

Jumlah kelahiran terendah tercatat sejak 1960-an. Usut punya usut, kondisi ini rupanya bukan disebabkan karena pasangan yang tak ingin memiliki keturunan.

Para ahli di China mengatakan, penyebabanya karena ketidakseimbangan gender. Di China, kaum adam begitu kesulitan untuk mendapatkan istri. Jumlah laki-laki lebih banyak 34,9 juta dari jumlah perempuan.

Ini adalah efek samping dari kebijakan satu anak yang diperkenalkan pada 1979 di China untuk memperlambat pertumbuhan penduduk. Kebijakan tersebut menyebabkan aborsi paksa dan dilaporkan melimpahnya anak laki-laki yang baru lahir dari tahun 1980-an dan seterusnya.

Kondisi ini lantas ini menimbulkan masalah bagi pasar perkawinan, terutama bagi pria dengan sumber daya sosial ekonomi yang kurang. Barulah pada 2016, pemerintah menghentikan kebijakan itu dan memperbolehkan pasangan untuk memiliki dua anak.

Namun, kebijakan ini dianggap gagal memulihkan angka kelahiran. Kondisi ini diperparah dengan pandemi saat ini. Tak adanya dukungan keuangan untuk pendidikan atau akses ke fasilitas penitipan anak menjadi orang malas untuk memiliki anak.

Banyak orang tidak mampu membesarkan anak-anak di tengah meningkatnya biaya hidup.