Menu

Begini Cara Biadab Pasukan Israel Agar Warga Palestina Tak Halang-Halangi Proses Perebutan Tanah dan Pemukiman

Azhar 31 May 2021, 09:25
Ilustrasi. Foto: Internet
Ilustrasi. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Pengambilan paksa tanah warga-warga Palestina oleh pasukan Israel Selalu mendapatkan perlawanan. Terutama dari generasi muda Palestina.

Agar niat busuk mereka tak mendapatkan perlawanan berarti, mereka melakukan aksi teror dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 31 Mei 2021.

Salah satunya menimpa Mohammed Saadi yang saat diteror baru berusia tiga belas tahun.

Menurut pengakuannya saat diculik, matanya ditutup, dipukuli dan diancam dengan pistol oleh lima pria di kampung halamannya di Umm al-Fahem.

Peristiwa itu terjadi pada 20 Mei 2021. Saadi termasuk di antara ribuan orang yang berkumpul untuk prosesi pemakaman Mohammed Kiwan, remaja 17 tahun yang ditembak polisi Israel.

Pada saat itu, ketegangan meningkat di Yerusalem Timur yang diduduki yang dipicu rencana pengusiran sejumlah keluarga Palestina dari Sheikh Jarrah oleh pasukan Israel.

Serta serangan di kompleks Masjid Al-Aqsa, dan serangan militer Israel di Gaza. Aksi itu menyebabkan ribuan warga Palestina melakukan unjuk rasa harian di sejumlah kota yang berhasil direbut oleh pasukan Israel.

Kelima pria itu berada di dekat pawai Kiwan di Umm al-Fahem, sebuah kota di Israel tengah yang sebagian besar dihuni oleh warga Palestina dengan kewarganegaraan Israel.

Mereka menutupi wajah mereka dengan masker dan syal dan berpakaian seperti orang Palestina mana pun di Israel yang berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Ketika demo berakhir Saadi dan adik laki-lakinya yang berusia 15 tahun pulang ke rumah. Mereka mendekati bundaran yang dipenuhi polisi dan tentara.

Entah dari mana, lima pria menyerbu keluar dari mobil silverdi mengepung mereka. Dan dia berhasil ditangkap.

"Mereka menyerang saya dan mendorong saya berkeliling dan memaksa saya masuk ke mobil yang sama. Syukurlah, saudara laki-laki saya berhasil melarikan diri, jadi mereka hanya menangkap saya," ujarnya.

Di dalam mobil, mata Saadi ditutup dan diancam akan dibunuh. Dia juga tidak tahu dibawa kemana dan tidak tahu kesalahan apa yang dia lakukan.

"Mereka mengancam akan membunuh saya dan terus-menerus menggunakan kata-kata kotor," sebutnya.

"Mereka memukul seluruh tubuh saya seperti kepala, lengan, kaki saya. Wajah saya bengkak tapi saya lebih baik mati daripada dipermalukan," lanjutnya.

Begitu sampai di kantor polisi, lengan dan kakinya diborgol. Meski kepalanya berdarah, dia tidak mendapatkan perawatan medis. Selama tiga jam, yang dia takutkan bukanlah kondisi dirinya. Melainkan keluarganya.

"Saya tidak takut, saya hanya tidak ingin mereka menghukum orang tua saya atas sesuatu yang mungkin telah saya lakukan. Saya sangat khawatir dengan keluarga saya, lebih dari apapun," ujarnya.

Seorang polwan yang berbicara bahasa Arab menginterogasinya. Menurut Saadi, dia berusaha membuatnya mengaku atas hal-hal yang tidak dia lakukan.

Dia baru dibebaskan pada jam 3 pagi, beberapa jam setelah ayahnya tiba di kantor polisi dengan seorang pengacara.