Menu

Biksu Ashin Wirathu yang Terlibat Pembantaian Muslim Rohingya Dibebaskan Oleh Junta Militer Myanmar

Riki Ariyanto 7 Sep 2021, 17:47
Biksu Ashin Wirathu yang Terlibat Pembantaian Muslim Rohingya Dibebaskan Oleh Junta Militer Myanmar (foto/int)
Biksu Ashin Wirathu yang Terlibat Pembantaian Muslim Rohingya Dibebaskan Oleh Junta Militer Myanmar (foto/int)

RIAU24.COM - Biksu Ashin Wirathu (53) yang terlibat dalam dibebaskan. Kabar ini sontak mencuri perhatian dunia, sebab biksu Ashin ini diduga kuat terlibat pembantaian kelompok minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine pada tahun 2012.

Dilansir dari detik.com, pemerintahan Aung San Suu Kyi sempat menahan biksu Ashin atas tuduhan penghasutan. Bahkan Majalah TIME menjuluki biksu Ashin Wirathu sebagai 'Buddhist bin Laden' dan "The Face of Buddhist Terror" pada tahun 2013.

Seperti diketahui negara Myanmar sedang dalam kekacauan sejak kudeta militer Februari lalu berhasil menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi. Namun hal itu ditentang dunia internasonal, apalagi tindakan keras militer Myanmar terhadap aksi-aksi demo yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Dewan Administrasi Negara, demikian junta militer menyebut dirinya, Agustus lalu telah membatalkan hasil pemilihan November, yang dimenangkan dengan telak oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Suu Kyi. Setelah rangkaian peristiwa itu, Junta Myanmar mengatakan sudah membebaskan Ashin Wirathu seorang biksu yang anti-Muslim. Dan semua tuduhan terhadapnya dibatalkan.

Selasa (7 September 2021), Kantor berita AFP, melaporkan biksu tersebut "menerima perawatan di rumah sakit militer", tanpa memberikan rincian mengapa Ashin Wirathu dirawat di rumah sakit.

Sejak lama Ashin Wirathu dikenal retorika nasionalis anti-Islamnya, terutama terhadap komunitas Muslim Rohingya yang tak punya kewarganegaraan.

Pada tahun 2017, otoritas Buddha tertinggi Myanmar pernah melarang Ashin Wirathu berkhotbah selama satu tahun. Tetapi, setelah larangan itu berakhir, Ashin Wirathu yang pro-militer itu kembali kerap muncul dalam aksi-aksi demo nasionalis, di mana Ashin Wirathu menuduh pemerintah melakukan korupsi dan marah atas upayanya yang gagal untuk menulis ulang konstitusi yang ditulis oleh junta militer.

Sementara itu sejak Suu Kyi dikudeta, dirinya harus menghadapi sejumlah tuduhan satu di antaranya melanggar pembatasan virus Corona serta mengimpor walkie talkie secara ilegal.