Menu

Cerita Prabowo dan Luhut Saat Sama-sama Berseragam Loreng, Diminta Bikin Satuan Anti Teror yang Diberin Nama...

Azhar 1 Jul 2022, 18:24
Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan saat berseragam TNI. Sumber: Internet
Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan saat berseragam TNI. Sumber: Internet

RIAU24.COM - Pasukan elite penanggulangan teror Korps Baret Merah, Detasemen Khusus 81 Kopassandha atau kini dikenal dengan Sat-81/Gultor Kopassus memiliki sejarah panjang.

Terutama sejarah ketika pertama kali dibentuk oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dikutip dari okezone.com.

Semua bermula ketika Kapten Prabowo kali pertama bertemu dengan Luhut Pandjaitan yang baru saja kembali dari Operasi Nanggala 5 di Timor Timur.

Tepatnya saat itu ketika Luhut diangkat menjadi kepala seksi 2 operasi sementara Prabowo sebagai wakilnya. Keduanya langsung dikirim oleh sekolah Special Forces ke Amerika Serikat (AS).

"Pada 1981, sejak kembali dari Amerika, saya bersama Pak Luhut dipanggil oleh Pak Benny Moerdani. Kami diperintahkan untuk sekolah ke Jerman, sekolah antiteror GSG9," ujar Prabowo dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan Militer: catatan dari pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto.

"Setelah sekolah itu, kami diperintahkan membentuk pasukan antiteror yang kemudian diberi nama Detasemen 81 karena dibentuk pada 1981," ujar Prabowo.

Operasi pertama Detasemen 81 ketika berhasil dalam aksi pembebasan sandera di Woyla.

"Ini adalah salah satu peristiwa pembebasan sandera yang paling terkenal di dunia pada saat itu," kenang Prabowo.

Saat membentuk dan melatih pasukan antiteror Indonesia, Prabowo mengenang Luhut banyak memberikan masukan terutama untuk menyusun rencana latihan dan administrasi pembangunan.

Bahkan, Prabowo muda saat itu sudah diberikan tanggung jawab untuk pembangunan pangkalan maupun pengorganisaskan. Prabowo mengatakan hubungannya dengan Luhut sangat baik.

Setelah kebersamaan yang cukup melekat, keduanya kemudian berpisah. Luhut melanjutkan Sekolah Staf dan Komandi ABRI, sementara Prabowo menjalani Kursus Lanjutan Perwira.