Menu

Mengingat Kembali Perjuangan Prof. Dr. Sulianti Saroso yang Hampir Tak Pernah Suntik Pasien

Rizka 10 May 2023, 12:20
Prof Dr Sulianti Saroso
Prof Dr Sulianti Saroso

RIAU24.COM - Namanya disematkan pada Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI), yang dibangun secara representatif  di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Tidak terhitung lagi, berapa kali orang menyebutnya, menuliskannya dan membincangkannya, baik di media penyiaran dan media sosial, dalam pekan-pekan terakhir ini.

Terbaru, Google Doodle hari ini, Rabu (10/5) kembali mengingatkan masyarakat Indonesia terhadap salah satu tokoh kedokteran perempuan Indonesia, Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Saat ini, mungkin namanya dikenal masyarakat luas karena tersemat sebagai nama rumah sakit terkemuka di Jakarta, yakni Rumah Sakit Pencegahan Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso.

Rumah sakit tersebut selalu menjadi rujukan utama tiap kali ada wabah penyakit menular yang menyebar global, sampai ke Indonesia, seperti Covid-19 yang menjadi pandemi sejak awal 2020 lalu.

Meninggal pada 29 April 1991, Prof. Dr. Sulianti Saroso dikenal sangat berjasa terhadap dunia pencegahan dan pengendalian penyakit menular, serta keluarga berencana (KB). Sepak terjangnya untuk dunia kesehatan sebelum dan sesudah kemerdakaan Indonesia sudah tak terhitung lagi.

Kecerdasan Sul difasilitasi oleh orang tuanya dengan semaksimal mungkin. Ia menempuh pendidikan dasar berbahasa Belanda ELS  (Europeesche Lagere School), lalu pendidikan menengah elite di Gymnasium Bandung, yang sebagian besar siswanya kulit putih, dan melanjutkan pendidikan tinggi di Geneeskundige Hoge School (GHS), sebutan baru bagi Sekolah Kedokteran STOVIA di Batavia. Ia lulus sebagai dokter 1942.

Melansir Kompas.id, Sul mendapat gelar sarjana public health administration dari Universitas London. Tahun 1961-1965 menjadi research associate di School of Medicine, Tulane University, New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.

Di sanalah ia melakukan penelitian soal penyakit lumpuh dan keracunan serangga di Kolombia. Di kampus ini pula Sul pernah memberikan mata kuliah epidemiologi.

Pada tahun 1962, Sul mendapat gelar master public health and tropical medicine. Gelar doktor di bidang epidemiologi diraihnya tahun 1965 dengan penelitian disertasi berjudul ”The Natural History of Enteropathogenic Escherichia Coli Infections”.

Sul mengusahakan obat dan makanan untuk para pemuda dan pejuang. Sul sendiri yang mengantarkan obat dan makanan tersebut ke front Tambun (Jawa Barat), Gresik (Jawa Timur), Demak (Jawa Tengah), dan sekitar Yogyakarta.

Sebagai pendidik, Ia diberi gelar guru besar oleh Universitas Airlangga pada tahun 1969, dan guru besar luar biasa pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Sul ini merupakan dokter perempuan pejuang di garis depan pada masa awal kemerdekaan. Awal dirinya termotivasi menjadi dokter selepas lulus dari sekolah Gymnasium di Bandung (1935) untuk mengikuti jejak ayahnya, dr Sulaiman.

Meski perempuan, Sulianti tak pernah takut berada di tengah-tengah kerasnya peperangan untuk membantu para pejuang yang terluka. Dirinya cukup cekatan untuk mengobati bahkan mengorgansasi dapur umum demi kebutuhan gerilyawan yang masuk kota.

Di samping aktif dalam pergerakan, Sulianti juga menjadi dokter di RS Bethesda di Yogyakarta untuk bangsal penyakit dalam dan penyakit anak. Karena cukup aktif dalam politik dan pergerakan, Sulianti sempat ditahan oleh pemerintah Belanda selama dua bulan di Yogyakarta.

Sulianti juga aktif menjadi anggota Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan duduk dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia sebagai wakil Pemuda Puteri Indonesia (PPI).

Sepak terjang Sulianti sebagai dokter pada masa perjuangan patut diacungi jempol, dirinya selalu mengusahakan obat dan makanan untuk para pemuda dan pejuang. Bahkan obat dan makanan diantarkan dirinya sendiri langsung ke kantong-kantong gerilya di Tambun, Gresik, Demak dan sekitar Yogyakarta.

Pada 1947, dirinya pergi ke India menghadiri Kongres Wanita Seluruh India sebaga wakil Kowani bersama Ny. Utami Suryadarma. Tak segan dirinya menumpang pesawat terbang milik industrialis Patnaik yang saat itu menjadi blockade runner, untuk menembus blokade yang dipasang Belanda.

Prof. Dr. Sulianti Soeroso juga dikenal sebagai peneliti dan perancang kebijakan kesehatan, dan tidak tertarik menjadi dokter praktek.

Menurut artikel Indonesia.go.id, bahkan Dr. Sul disebut hampir tidak pernah menyuntik pasiennya. Hal itu dikatakan oleh anaknya, Dita Saroso.

‘’Ibu itu hampir-hampir tak pernah menyuntik orang atau menulis resep,’’ kenang sang putri, Dita Saroso, mantan profesional perbankan yang kini menikmati masa pensiunnya di Bali.