Umat Kristen di Gaza menolak meninggalkan gereja sebelum serangan Israel
"Di antara mereka yang mencari perlindungan di dalam kompleks, banyak yang lemah dan kekurangan gizi akibat kesulitan yang dialami selama beberapa bulan terakhir," tulis para patriark. "Karena alasan ini, para klerus dan biarawati telah memutuskan untuk tetap tinggal dan terus merawat semua orang yang akan berada di kompleks."
“Keputusan ini datang dengan kebebasan penuh,” Farid Gibran, juru bicara Gereja Keluarga Kudus, menjelaskan, bahwa mereka yang berlindung di gereja memiliki kebebasan untuk pergi jika mereka mau.
Keputusan para pemimpin gereja untuk tetap tinggal di Kota Gaza telah menginspirasi banyak penghuni Gereja Keluarga Kudus untuk tetap tinggal meskipun kekhawatiran akan serangan Israel semakin meningkat. Banyak orang, seperti Moussa Saad Ayyad, 41 tahun, ayah dari empat anak berusia enam hingga 14 tahun, percaya bahwa hubungan gereja dengan Vatikan dapat menjamin keamanan relatif.
"Kami datang ke gereja karena rasanya hanya di sanalah satu-satunya tempat aman yang tersisa, tempat kami bisa berkumpul dan mencari pertolongan. Hubungannya dengan dunia luar memberi kami perlindungan. Namun, jika bahaya semakin memburuk, kami masing-masing mungkin tak punya pilihan selain melarikan diri ke selatan sendirian," ujarnya.
Bagi orang lain seperti Fouad, prospek pengungsian kedua dan beban yang akan ditanggung putri dan orang tuanya yang lanjut usia adalah hal yang menghalanginya untuk pergi. Namun, ia juga percaya bahwa bertahan adalah sebuah tindakan keimanan dan bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel, yang telah menelan biaya begitu besar.
"Mereka mengambil rumah dan orang-orang yang saya cintai, tetapi mereka tidak akan mengambil hak saya untuk tetap tinggal di tanah ini, tidak peduli seberapa gelapnya," kata Fouad kepada Al Jazeera sambil melihat putrinya tidur.