Kereta Cepat, 'Jebakan Utang' China, dan Isu Mark Up yang Menyeret Jokowi
Indonesia, kata Rocky, harusnya sudah bisa mengantisipasi pola China untuk mengambil alih infrastruktur sebagai pengganti ketidakmampuan membayar utang.
"Harusnya kita tahu dari awal dengan pengetahuan bahwa kebiasaan pemerintah Cina ini untuk menjebak partner bisnisnya itu sudah jadi semacam model baru investasi Cina," kritiknya.
Beban Rakyat dan Spekulasi Politik
Kalkulasi para pakar menyebutkan bahwa investasi Kereta Cepat ini baru akan balik modal dalam waktu sekitar 150 tahun. Faktanya, Rocky menyebut utang tersebut pada akhirnya akan dibebankan kepada rakyat, termasuk generasi Z saat ini dan masa depan.
"Anak-anak muda yang hidup sekarang, dia harus membayar utang nanti," ucap Rocky. "Jadi buat apa ada bonus demografi, kalau beban utang itu 5-10 tahun dan mungkin 50 tahun ke depan masih ada pada generasi yang sekarang disebut Gen Z ini?"
Dalam konteks politik terkini, muncul spekulasi yang mengaitkan kasus ini dengan dinamika antara Jokowi dan penggantinya, Prabowo Subianto. Pertemuan-pertemuan antara keduanya, terutama menjelang suksesi, diduga bukan sekadar nostalgia, melainkan negosiasi politik.