Tahukan Anda, Letusan Super Gunung Toba Pemicu Migrasi Manusia Keluar Afrika
Namun, temuan terbaru menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini mengungkap bahwa migrasi manusia justru berlangsung selama periode iklim kering, melalui jalur yang disebut sebagai “jalur besar biru”, yakni jaringan sungai musiman. Kondisi kering tersebut dipicu oleh perubahan iklim akibat letusan supervulkan Gunung Toba.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menemukan berbagai bukti arkeologis berupa peralatan memasak, sisa-sisa makanan, perkakas batu tertua, serta indikasi awal praktik memanah. Analisis penanggalan arkeologis menunjukkan bahwa seluruh temuan tersebut berasal dari periode waktu yang relatif sama, sekitar 74.000 tahun yang lalu. Batu-batu kecil yang diduga merupakan mata panah menjadi salah satu bukti tertua aktivitas memanah yang pernah ditemukan, menandai kemajuan teknologi dan strategi berburu manusia purba.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 20 Maret 2023 dengan judul “Adaptive foraging behaviours in the Horn of Africa during Toba supereruption”. Penelitian tersebut dipimpin oleh John Kappelman, seorang antropolog dari The University of Texas.
Letusan supervulkan Gunung Toba menyebabkan perubahan iklim global yang berdampak pada terjadinya musim kemarau panjang di Afrika. Manusia prasejarah yang hidup di wilayah penelitian sangat bergantung pada sumber daya ikan air tawar. Kondisi kemarau berkepanjangan memaksa mereka untuk mencari sumber makanan alternatif dan mendorong mobilitas manusia ke wilayah yang lebih luas demi mempertahankan kelangsungan hidup.
Penelitian ini berfokus pada situs arkeologi Shinfa-Metema 1 yang terletak di dataran rendah barat laut Etiopia, di sepanjang Sungai Shinfa, salah satu anak Sungai Nil Biru. Selain bukti arkeologis, para peneliti juga menemukan pecahan kaca vulkanik berusia sekitar 74.000 tahun, yang berdasarkan analisis kimia memiliki kecocokan dengan material vulkanik dari letusan purba Gunung Toba di Sumatra.
Analisis geokimia isotop terhadap gigi fosil mamalia dan cangkang telur burung unta—yang merupakan sisa konsumsi manusia purba—menunjukkan bahwa situs tersebut tidak dihuni secara permanen. Permukiman ini hanya digunakan selama musim kemarau panjang, dengan kondisi lingkungan yang setara dengan habitat paling kering secara musiman di Afrika Timur saat ini.