Menu

Kesaksian Pilu Dokter Lebanon Tangani Pasien yang Kena 'Hujan Bom' Israel

Devi 10 Apr 2026, 10:59
Kesaksian Pilu Dokter Lebanon Tangani Pasien yang Kena 'Hujan Bom' Israel
Kesaksian Pilu Dokter Lebanon Tangani Pasien yang Kena 'Hujan Bom' Israel

RIAU24.COM - Di tengah hujan bom yang mengguyur ibu kota Lebanon, ratusan orang berlarian menuju Rumah Sakit American University of Beirut (AUB). Suasana mencekam menyelimuti lobi rumah sakit; anak-anak menangis mencari orang tua mereka, sementara para keluarga datang membawa foto orang tercinta, berharap ada kabar di tengah ketidakpastian antara hidup dan mati.

Serangan udara masif yang menghantam lebih dari 100 target dalam waktu hanya 10 menit ini telah mengubah fasilitas medis di Beirut menjadi pusat penderitaan. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, jumlah korban tewas kini melonjak menjadi 303 orang, dengan lebih dari 1.150 lainnya luka-luka.

Pasien Bayi dan Balita di Ruang ICU

Salah satu fakta paling memilukan dari tragedi ini adalah banyaknya korban anak-anak. Dr Salah Zeineldine, Kepala Medis RS AUB, mengungkapkan bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, mereka menerima 76 korban luka.

"Banyak dari pasien kritis kami adalah anak-anak. Yang tertua berusia 12 tahun, sementara dua pasien yang harus langsung masuk ICU adalah bayi; satu berusia beberapa bulan, dan satu lagi baru berusia beberapa minggu," ujar Dr Zeineldine kepada Al Jazeera.

Luka-luka yang dialami pasien sangat mengerikan. Sebagian besar menderita patah tulang dan trauma kepala akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang runtuh terkena ledakan rudal.

Meskipun Israel mengeklaim serangan tersebut menargetkan kelompok Hizbullah, para tenaga medis di lapangan memberikan kesaksian berbeda. Dr. Zeineldine menegaskan bahwa serangan tersebut sangat acak dan menyasar warga sipil dari segala lapisan, wanita, pria, hingga lansia.

Kondisi ini membuat para dokter senior yang sudah terbiasa dengan konflik merasa terguncang. Dr Antoine Zoghbi, Presiden Palang Merah Lebanon, menyebut situasi ini sebagai mimpi buruk yang tak kunjung usai.

"Ini adalah perang tanpa aturan. Perang tanpa batas. Mereka menyerang banyak wilayah secara bersamaan dan menyerang dengan keras untuk menimbulkan rasa sakit," ungkap Dr Zoghbi.

Sistem Kesehatan yang Berada di Ambang Kolaps


Krisis ini semakin memperburuk sistem kesehatan Lebanon yang sudah rapuh akibat krisis ekonomi sejak 2019. Beberapa masalah krusial yang kini dihadapi rumah sakit di Lebanon meliputi:

Kelangkaan Obat: Jalur impor-ekspor yang terputus membuat stok obat-obatan menipis.
Krisis Energi: Rumah Sakit sangat bergantung pada generator karena pemadaman listrik total, sementara harga bahan bakar meroket akibat ketegangan global.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa stok trauma kit penyelamat nyawa di beberapa RS bisa habis dalam hitungan hari.

Meskipun luka fisik dan mental begitu dalam, solidaritas rakyat Lebanon tetap menyala. Ribuan warga lokal maupun warga asing mengantre di rumah sakit untuk mendonorkan darah setelah Palang Merah Lebanon mengeluarkan panggilan darurat di media sosial.

Namun, bagi Dr Zeineldine, bantuan medis dan donasi hanya akan menjadi penambal sementara selama mesin perang masih bekerja. Baginya, solusi untuk menyelamatkan nyawa di Lebanon saat ini hanya bisa diringkas dalam tiga kata: "Hentikan perang ini." ***