Menu

WHO Ungkap Kronologi-Gejala Virus Hanta, 147 Penumpang Kapal Mewah Terjebak Karenanya

Devi 5 May 2026, 12:10
WHO Ungkap Kronologi-Gejala Virus Hanta, 147 Penumpang Kapal Mewah Terjebak Karenanya
WHO Ungkap Kronologi-Gejala Virus Hanta, 147 Penumpang Kapal Mewah Terjebak Karenanya

RIAU24.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap laporan kronologi virus Hanta yang kini menyebabkan lebih dari 100 penumpang terjebak di kapal pesiar mewah, MV Hondius, Oceanwide Expeditions.
Pada 2 Mei 2026, WHO menerima laporan kematian penumpang dengan gejala penyakit pernapasan berat, tiga orang tewas. Kapal tersebut membawa 147 penumpang dan awak.

Hingga 4 Mei, teridentifikasi tujuh kasus, dua kasus virus Hanta terkonfirmasi laboratorium dan lima kasus suspek, termasuk tiga kematian, satu pasien dalam kondisi kritis, serta tiga orang dengan gejala ringan.

Gejala mulai muncul antara 6 hingga 28 April 2026, ditandai dengan demam, gangguan pencernaan, yang kemudian berkembang cepat menjadi pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, hingga syok.

"Investigasi lanjutan masih berlangsung. Wabah ini ditangani melalui respons internasional terkoordinasi, termasuk investigasi mendalam, isolasi dan perawatan pasien, evakuasi medis, serta pemeriksaan laboratorium," sorot WHO dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (5/5).

Infeksi virus Hanta pada manusia umumnya terjadi akibat kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penyakit ini ditegaskan WHO jarang terjadi, tetapi bisa berakibat fatal. Meski jarang, penularan antar manusia pernah dilaporkan pada wabah sebelumnya yang melibatkan virus Andes.

WHO saat ini menilai risiko terhadap populasi global dari kejadian virus Hanta di kapal pesiar rendah, tetapi akan terus memantau situasi epidemiologis dan memperbarui penilaian risiko.

Berikut gejala yang dikeluhkan pasien tertular virus Hanta:

Kasus 1:

Pria dewasa mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan pada 6 April 2026. Pada 11 April, kondisinya memburuk menjadi gangguan pernapasan dan meninggal di hari yang sama. Tidak dilakukan uji mikrobiologi. Jenazah dipindahkan ke Saint Helena pada 24 April.

Kasus 2:

Perempuan dewasa yang merupakan kontak erat kasus 1 mengalami gejala pencernaan saat turun di Saint Helena pada 24 April. Kondisinya memburuk saat penerbangan ke Johannesburg dan meninggal pada 26 April. Pada 4 Mei, terkonfirmasi positif virus Hanta melalui PCR.

Kasus 3:

Pria dewasa mengalami demam, sesak napas, dan pneumonia pada 24 April. Kondisinya memburuk pada 26 April dan dievakuasi ke Afrika Selatan pada 27 April. Ia kini dirawat di ICU. Tes PCR pada 2 Mei mengonfirmasi virus Hanta.

Kasus 4:

Perempuan dewasa meninggal pada 2 Mei setelah mengalami gejala pneumonia sejak 28 April. Tiga kasus suspek lainnya melaporkan demam tinggi atau gangguan pencernaan dan masih berada di kapal.

Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, menyebut pasien asal Inggris yang dalam kondisi kritis sedang ditangani.

"Pasien sedang ditangani. Seperti virus lainnya, hantavirus tidak memiliki pengobatan khusus, sehingga yang diberikan adalah perawatan suportif dan penanganan gejala," ujarnya.

Ia menambahkan, petugas kesehatan serta siapa pun yang sempat melakukan kontak dengan pasien akan dilacak dan diperiksa.

Pemerintah Inggris melalui juru bicaranya menyatakan kantor luar negeri telah berkomunikasi dengan keluarga pasien dan tim konsuler disiagakan di Inggris, Afrika Selatan, Spanyol, serta Portugal.

Oceanwide Expeditions menyebut opsi berlayar ke Las Palmas atau Tenerife sedang dipertimbangkan sebagai lokasi penurunan penumpang untuk pemeriksaan medis lanjutan.

Seorang penumpang yang enggan disebutkan namanya mengatakan pesawat evakuasi sedang dalam perjalanan.

"Setelah tiba, tiga orang akan dievakuasi dan diterbangkan ke Eropa. Sisanya kemungkinan besar akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary," ujarnya.

Ia juga menyebut otoritas Cape Verde tidak mengizinkan penumpang turun demi melindungi warga setempat.

Presiden Institut Kesehatan Masyarakat Cape Verde, Maria Da Luz, mengatakan penumpang tidak akan diizinkan turun di wilayah tersebut guna mencegah risiko penularan. ***