Menu

Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar Terapi Gen Dunia, Kepala BPOM: Saatnya Jadi Pemain Utama

Devi 4 Jun 2026, 13:04
Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar Terapi Gen Dunia, Kepala BPOM: Saatnya Jadi Pemain Utama
Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar Terapi Gen Dunia, Kepala BPOM: Saatnya Jadi Pemain Utama

RIAU24.COM -  Perkembangan terapi gen, terapi sel, hingga kecerdasan buatan (AI) tengah mengubah wajah dunia kesehatan global. Penyakit yang dulu sulit ditangani, seperti kanker, penyakit genetik langka, hingga kerusakan organ, kini mulai bisa diatasi melalui pendekatan yang lebih presisi dan berbasis teknologi biologis modern.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) Taruna Ikrar, menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi kesehatan yang dikembangkan negara lain. Menurutnya, Indonesia harus mulai mengambil peran sebagai pemain utama dalam inovasi biofarmasi modern.

"Transformasi besar sedang terjadi dalam dunia kesehatan global. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi kesehatan dunia, tetapi harus mulai mengambil posisi sebagai pemain utama dalam inovasi biofarmasi modern," ujar Taruna dalam keterangannya.

Menurut Taruna, dunia saat ini memasuki era advanced therapy medicinal products (ATMP), yang mencakup terapi gen, terapi sel, dan produk rekayasa jaringan. Teknologi tersebut dinilai membuka harapan baru bagi pasien dengan kanker, penyakit genetik, penyakit degeneratif, hingga kerusakan organ.

Ia mencontohkan keberhasilan terapi sel CAR-T dalam menangani leukemia pada anak sebagai bukti bahwa dunia kedokteran telah memasuki babak baru.

"Ilmu pengetahuan kini mampu merekayasa sel imun pasien menjadi senjata biologis untuk melawan kanker," katanya kepada detikcom Rabu (3/6/2026).

BPOM Perkuat Regulasi Terapi Gen dan Terapi Sel

Taruna menegaskan kemajuan teknologi kesehatan harus dibarengi regulasi yang adaptif. Menurutnya, regulator tidak lagi hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga menjadi akselerator inovasi sekaligus pelindung masyarakat.

Karena itu, BPOM mulai memperkuat berbagai kebijakan terkait terapi lanjut melalui pendampingan uji klinik, penguatan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pengawasan fasilitas pengolahan sel dan jaringan manusia, hingga harmonisasi regulasi dengan standar internasional.

"Regulasi harus mampu menjadi akselerator inovasi sekaligus pelindung masyarakat melalui jaminan keamanan, khasiat, dan mutu terapi modern," ujarnya.

RI Mulai Bangun Ekosistem Terapi Gen Nasional

Taruna menyebut fondasi pengembangan terapi gen dan pengobatan presisi di Indonesia mulai terbentuk. Sejumlah perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit, hingga industri farmasi telah mengembangkan riset genomik, stem cell, bioinformatika, dan precision medicine.

Di antaranya adalah Universitas Indonesia melalui IMERI dan pusat regenerative medicine, Universitas Airlangga, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional yang memperkuat kapasitas genomik nasional.

Sejumlah rumah sakit nasional juga mulai mengembangkan layanan berbasis penelitian terapi lanjut, seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais, RSPAD Gatot Soebroto, dan RSJPD Harapan Kita.

Sementara dari sektor industri, perusahaan seperti Kalbe Farma, Bio Farma, Dexa Medica, hingga Nalagenetics mulai memperkuat pengembangan precision medicine dan layanan genomik. ***