Menu

Menyusuri Sungai Siak dalam Lantunan Zikir, Ghatib Beghanyut Jadi Ikhtiar Spiritual

Lina 14 Aug 2026, 21:57
Menyusuri Sungai Siak dalam Lantunan Zikir, Ghatib Beghanyut Jadi Ikhtiar Spiritual
Menyusuri Sungai Siak dalam Lantunan Zikir, Ghatib Beghanyut Jadi Ikhtiar Spiritual

RIAU24.COM - SIAK — Ghatib Beghanyut kembali dilaksanakan masyarakat Melayu Siak Sri Indrapura pada Kamis malam, 13 Agustus 2026, bertepatan dengan 29 Safar 1448 Hijriah. Tradisi keagamaan dan adat Melayu ini menjadi momentum untuk memperkuat doa, silaturahmi, serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi negeri.

 

Ghatib Beghanyut merupakan tradisi berupa zikir, takbir, tahlil, dan doa bersama yang dilaksanakan di atas perahu atau kapal sambil menyusuri Sungai Siak, yang dalam khazanah masyarakat Melayu dikenal sebagai Sungai Jantan.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Siak Syamsurizal, Syekh H. Zulfikar selaku pimpinan Ghatib Beghanyut, Dandim 0322/Siak, Ketua Pengadilan Negeri Siak, Pimpinan LAMR Kabupaten Siak, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, alim ulama, serta para tokoh masyarakat.

 

Mengusung tema “Menolak Bala, Menjemput Tuah”, Ghatib Beghanyut tidak sekadar dipandang sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai ikhtiar spiritual masyarakat untuk memohon perlindungan Allah SWT agar negeri dijauhkan dari berbagai marabahaya, bencana, musibah, penyakit, dan segala bentuk keburukan.

 

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Siak Syamsurizal menyampaikan bahwa Ghatib Beghanyut merupakan warisan budaya leluhur yang sarat dengan makna spiritual dan kearifan Melayu.

 

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud kebersamaan dan kerendahan hati masyarakat dalam memohon perlindungan kepada Allah SWT.

 

“Menolak bala bukan hanya bermakna menghindari musibah, tetapi juga menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat mendatangkan kemudaratan. Sedangkan menjemput tuah adalah upaya sungguh-sungguh untuk meraih keberkahan melalui jalan yang diridai Allah SWT,” ujarnya.

 

Diawali Ziarah Makam Para Sultan

 

Sebelum pelaksanaan Ghatib Beghanyut, rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke sejumlah makam Sultan dan tokoh pendiri Siak.

 

Ziarah dilakukan ke makam Raja Kecik di Kampung Buantan, makam Tengku Buwang Asmara di Kecamatan Mempura, makam Sultan Syarif Kasim II, serta Kompleks Pemakaman Koto Tinggi.

 

Ziarah tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendahulu. Sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan masyarakat Siak tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para Sultan, ulama, tokoh adat, dan leluhur yang telah meletakkan dasar kehidupan negeri.

 

Pada malam pelaksanaan, rangkaian kegiatan dilanjutkan selepas salat Isya. Para peserta berjalan dari Masjid Syahabuddin menuju kawasan makam Koto Tinggi, kemudian melintasi depan Istana Siak menuju Pelabuhan LLASDP.

 

Sepanjang perjalanan, suasana religius terasa melalui lantunan zikir yang diikuti para peserta.

 

Dari pelabuhan, peserta kemudian menaiki kapal feri/Roro dan sejumlah perahu bermesin yang telah disiapkan untuk menyusuri Sungai Siak.

 

Zikir Menggema di Sungai Jantan

 

Dari atas kapal dan perahu, lantunan zikir, takbir, dan tahlil menggema di sepanjang perjalanan. Rombongan bergerak menyusuri Sungai Siak hingga menuju kawasan feri penyeberangan Belantik, Desa Langkai.

 

Di tengah gelapnya malam dan luasnya Sungai Siak, suara zikir yang dilantunkan bersama menghadirkan suasana khidmat sekaligus menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam memanjatkan doa keselamatan.

 

Perjalanan mengikuti arus sungai juga memiliki makna simbolis. Arus yang membawa perahu menuju hilir dimaknai sebagai doa dan ikhtiar agar segala bala, penyakit, marabahaya, dan keburukan dijauhkan dari negeri dan dibawa pergi menuju laut.

 

Bagi masyarakat Siak, zikir dan doa bersama menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, ikhtiar lahiriah perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar batiniah melalui doa dan permohonan kepada Allah SWT.

 

Merawat Adat, Memperkuat Persaudaraan

 

Bagi Pemerintah Kabupaten Siak bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak, pelestarian Ghatib Beghanyut bukan semata-mata mempertahankan tradisi lama.

 

Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, silaturahmi, dan persatuan masyarakat.

 

Masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu suasana, duduk bersama, berzikir bersama, dan berdoa bersama.

 

Nilai kebersamaan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman. Tradisi lokal yang memiliki nilai keagamaan dapat menjadi salah satu cara menjaga identitas masyarakat Melayu Siak sekaligus memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat.

 

Ghatib Beghanyut juga menyimpan pesan bahwa ketika masyarakat menghadapi kesulitan, kebersamaan, doa, dan ikhtiar harus menjadi kekuatan bersama.

 

Di atas Sungai Siak, tradisi tersebut membawa pesan sederhana namun mendalam: manusia dapat berikhtiar sekuat tenaga, tetapi keselamatan dan pertolongan pada akhirnya merupakan kehendak Allah SWT.

 

Arus sungai yang membawa perahu menuju hilir menjadi simbol harapan agar segala bala dan keburukan dijauhkan dari negeri. Sementara lantunan zikir menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan.

 

Tradisi ini sekaligus mengajarkan bahwa menjaga negeri bukan hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan merawat doa, akhlak, persaudaraan, dan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.

 

Ghatib Beghanyut 2026 akhirnya bukan sekadar perjalanan perahu menyusuri Sungai Siak. Ia menjadi perjalanan spiritual untuk mengingat sejarah, merawat adat, mempererat persaudaraan, dan bersama-sama mengetuk pintu langit dengan doa.(Lin)