Menu

Empat Musim Pertiwi, Film yang Angkat Isu Kekerasan Seksual pada Perempuan Lewati Perjalanan 8 Tahun Pengerjaan

Zuratul • 14 Oct 2026, 15:20
Film Empat Musim Pertiwi. Film garapan sutradara Kamila Andini itu mengangkat persoalan kekerasan seksual, pergulatan penyintas, hingga keterbatasan perlindungan hukum bagi perempuan. (Foto: Bazaar)
Film Empat Musim Pertiwi. Film garapan sutradara Kamila Andini itu mengangkat persoalan kekerasan seksual, pergulatan penyintas, hingga keterbatasan perlindungan hukum bagi perempuan. (Foto: Bazaar)

RIAU24.COM - Film Empat Musim Pertiwi membutuhkan waktu delapan tahun sejak gagasan awal pada 2017 hingga akhirnya hadir di layar lebar. Film garapan sutradara Kamila Andini itu mengangkat persoalan kekerasan seksual, pergulatan penyintas, hingga keterbatasan perlindungan hukum bagi perempuan.

Proses panjang tersebut diungkapkan produser Ifa Isfansyah dan Kamila dalam pemutaran film Empat Musim Pertiwi di XXI Jogja, Selasa (13/10).

Ifa mengatakan, lamanya pengerjaan film tidak terlepas dari riset, persiapan produksi, serta kebutuhan pembiayaan. Penggarapan secara intensif berlangsung pada 2022 hingga 2023, meliputi pematangan naskah dan persiapan teknis sebelum proses syuting.

"Secara riset memang membutuhkan waktu lama. Tema yang diangkat cukup sensitif, dan dari sisi sutradara juga perlu menggali lebih dalam secara subjeknya. Dari sisi produser, film dengan skala produksi dan skill seperti ini membutuhkan kesiapan pembiayaan yang matang, mengingat ini bukan sekadar film hiburan komersial," ujar Ifa.

Ia mengatakan, dukungan terhadap gagasan Kamila menjadi bagian dari komitmennya sebagai produser. Film tersebut tidak hanya diarahkan sebagai hiburan, tetapi juga diharapkan membuka ruang diskusi mengenai kekerasan seksual dan pengalaman para penyintas.

Berawal dari Gagasan pada 2017

Gagasan Empat Musim Pertiwi muncul pada 2017, ketika Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) belum disahkan. Dalam perjalanannya, cerita film terus berkembang sebelum akhirnya memasuki tahap produksi.

"Cerita dalam film ini terus berkembang seiring berjalannya waktu," kata Ifa.

Dalam menggarap film ini, Kamila memadukan pendekatan realis, fiksi, dan metafora visual. Pilihan tersebut digunakan untuk menggambarkan pergulatan batin dan emosi karakter yang tidak selalu mudah disampaikan melalui penceritaan konvensional.

"Lewat perpaduan gaya realis dan metafora visual, kami ingin menangkap sisi kemanusiaan yang lebih mendalam dari kisah perjuangan seorang penyintas," kata Kamila.

Pendekatan itu menjadi cara film menghadirkan pengalaman penyintas sekaligus memperlihatkan persoalan sosial yang melingkupinya.

Lukman Sardi Soroti Ketimpangan Hukum

Aktor Lukman Sardi menilai Empat Musim Pertiwi mengangkat persoalan penting mengenai posisi perempuan korban kekerasan seksual ketika berhadapan dengan sistem hukum.

Ia menyoroti bagaimana hukum dapat terlihat tidak berdaya ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan dan sumber daya materi. Dalam situasi tersebut, korban berpotensi menghadapi hambatan berlapis untuk memperoleh perlindungan dan keadilan.

Lukman juga mengapresiasi penggunaan simbolisme dalam film, termasuk unsur perdukunan. Ia melihat ironi dalam penggambaran sosok yang tampak menyeramkan tetapi justru memberikan rasa aman, sementara pihak yang terlihat baik dapat menyimpan kejahatan.

Simbol UFO, menurut pemaknaannya, turut menggambarkan pencarian kebebasan dari tekanan ekstrem. Berbagai elemen tersebut memperkuat penyampaian pesan sosial melalui pengalaman para karakter.

Selain mengapresiasi gagasan cerita, Lukman memuji penampilan Putri Marino dan para pemain lainnya yang dinilai mampu membangun emosi dalam film.

Wakili Indonesia di Oscar 2027

Empat Musim Pertiwi dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka. Film tersebut juga telah diputar dalam sejumlah festival internasional, termasuk Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival (BIFF).

Film ini terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards atau Oscar 2027 untuk kategori Best International Feature Film.

Keterlibatan dalam ajang tersebut membawa Empat Musim Pertiwi ke panggung internasional. Film ini sekaligus mengangkat isu kekerasan seksual, pengalaman penyintas, dan persoalan perlindungan hukum bagi perempuan sebagai bahan diskusi yang lebih luas.

(zar)