Menu

Pangkalan Kerinci Kini Jadi Miniatur Nusantara Lewat Pekan Seni Budaya Riau Kompleks 2026

Devi • 31 Oct 2026, 09:21
 Pangkalan Kerinci Kini Jadi Miniatur Nusantara Lewat Pekan Seni Budaya Riau Kompleks 2026
Pangkalan Kerinci Kini Jadi Miniatur Nusantara Lewat Pekan Seni Budaya Riau Kompleks 2026

RIAU24.COM - Perkembangan pesat Pangkalan Kerinci dari pemukiman kecil berpenduduk sekitar 190 Kepala Keluarga (KK) tiga dekade lalu, kini menjelma menjadi pusat pembauran budaya berskala internasional. Fenomena harmoni di tengah keberagaman tersebut tercermin nyata dalam pembukaan Pekan Seni dan Budaya (PSB) Riau Kompleks 2026 yang digelar di RGE Community Center (RGECC), Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan.

Wakil Bupati Pelalawan, Husni Tamrin, mengapresiasi dinamika sosial Pangkalan Kerinci yang kini dihuni oleh ribuan karyawan APRIL Group dari berbagai latar belakang suku, agama, daerah, hingga mancanegara. Menurutnya, pertumbuhan daerah ini harus terus diimbangi dengan ruang-ruang kebersamaan yang menjaga keharmonisan antara perusahaan dan masyarakat setempat.

“Dengan berbagai keberagaman dan perbedaan ini, mari kita bersama-sama membangun negeri Pelalawan yang kita cintai. Kegiatan seperti PSB menjadi sarana penting untuk mempererat hubungan harmonis yang sudah terjalin,” ujar Husni Tamrin saat membuka acara secara resmi melalui pemukulan gong bersama Chief Operating Officer (COO) APRIL Group, Eduward Ginting, Senin malam (26/10/2026).

Pada perhelatan tahun ini, Paguyuban Tunggal Warga (PUNGGAWA)—wadah silaturahmi karyawan asal suku Jawa—bertindak sebagai penyelenggara utama (host). Di bawah kepemimpinan PUNGGAWA, PSB 2026 sukses merangkul belasan paguyuban lintas suku dan budaya, seperti HIKMAT, IKABA, IKASS, IKMR, IKMRK, IKN-RK, IKT, Mergasilima, Pandanwangi, PERMASA, hingga keterlibatan ekspatriat dari berbagai negara.

COO APRIL Group, Eduward Ginting, menegaskan bahwa nilai utama dari perayaan ini bukanlah keseragaman, melainkan saling menghormati di tengah perbedaan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Persatuan tidak mesti sama. Masing-masing kita bangga dengan budaya sendiri, sekaligus menghormati dan mendukung yang lain sebagai bagian dari satu komunitas. Semangat inilah yang kita wujudkan dalam bekerja maupun bermasyarakat,” ungkap Eduward.

Halaman: 12Lihat Semua