Menu

Iran Rusuh dan Bank Dibakar, Ayatollah Khamenei Sebut Perbuatan Preman

Riki Ariyanto 18 Nov 2019, 10:27
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menyebut perusuh itu preman (foto/int)
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menyebut perusuh itu preman (foto/int)

RIAU24.COM - Senin 18 November 2019, Kisruh di Republik Islam Iran terjadi, bahkan sejumlah properti hingga bank dibakar. Hal ini kemudian dikecam Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan menyebut perusuh itu preman.

Seperti dilansir dari Sindonews, para demonstran telah mengamuk atas keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai 50 persen. "Sayangnya, beberapa masalah menyebabkan sejumlah orang kehilangan nyawa dan beberapa pusat hancur," ujar Ayatollah Ali Khamenei dalam satu pernyataan yang tersiar televisi pemerintah Iran pada Minggu lalu.

zxc1

Ayatollah Ali Khamenei mencurigai demonstran yang mengamuk ialah orang-orang yang bersekutu terhadap keluarga rezim Shah yang digulingkan 40 tahun yang lalu. Serta kelompok oposisi Mujahedeen-e-Khalq (MEK) yang menyerukan penggulingan pemerintah Iran.

"Membakar bank bukanlah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang (Iran). Inilah yang dilakukan preman," sebut Ayatollah Ali Khamenei, seperti dilaporkan Fox News, Senin (18/11/2019).

zxc2

Ayatollah Ali Khamenei katakan kenaikan harga BBM memang harus dilakukan berdasarkan pendapat ahli. Sebut Ayatollah meminta pejabat mencegah kenaikan harga barang-barang lainnya.

Ayatollah Ali Khamenei memerintahkan pasukan keamanan untuk melaksanakan tugas mereka dan bagi warga negara Iran diminta untuk menghindari demonstran yang kejam.

Pemerintah telah menutup akses internet di seluruh negeri. Sehingga sulit mengukur kerusuhan yang terjadi di sekitar 100 kota terus berlanjut atau tidak.

Iran merupakan rumah bagi cadangan minyak mentah terbesar keempat dunia. Bensin di negara itu tetap di antara yang termurah di dunia, dengan harga baru melonjak 50 persen dari 5.000 real menjadi 15.000 real per liter.

Menurut kantor berita IRNA, pengunjuk rasa rusuh menargetkan kantor polisi di kota Kermanshah pada hari Sabtu dan menewaskan seorang petugas. Seorang anggota parlemen mengatakan ada orang lainnya yang terbunuh di pinggiran kota Teheran. Sebelumnya, satu orang dilaporkan tewas pada hari Jumat di Sirjan, sekitar 500 mil tenggara Teheran.

"Pelaku utama kerusuhan dua hari terakhir telah diidentifikasi dan tindakan yang tepat sedang berlangsung," kata Kementerian Intelijen Iran, yang mengisyaratkan akan adanya tindakan keras dari aparat keamanan.

Kantor berita Fars mencatat jumlah total pengunjuk rasa lebih dari 87.000 orang. Menurut laporan tersebut, para demonstran menggeledah sekitar 100 bank dan toko. Aparat penegak hukum menangkap sekitar 1.000 orang.

Protes di Iran telah memberikan tekanan baru pada pemerintah Presiden Hassan Rouhani yang telah berjuang untuk mengatasi sanksi Amerika Serikat (AS) yang mencekik ekonomi negara itu sejak Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir kontroversial pada Mei 2018.

Juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham merilis pernyataan pada hari Minggu yang mengutuk penggunaan kekuatan mematikan dan pembatasan komunikasi yang parah oleh pemerintah Iran terhadap demonstran.

"Teheran secara fanatik mengejar senjata nuklir dan program rudal, dan mendukung terorisme," bunyi pernyataan Gedung Putih.

"Mengubah negara yang membanggakan menjadi kisah peringatan lain tentang apa yang terjadi ketika kelas penguasa meninggalkan rakyatnya dan memulai perang salib untuk kekuasaan dan kekayaan pribadi," sebut Gedung Putih. (Riki)