Lindungi Peti Kayu Peninggalan Nabi Musa, 800 Orang Tewas Diberondong Milisi Bersenjata di Tigray Ethiopia

Kamis, 25 Februari 2021 | 06:08 WIB
Gereja St. Mary of Zion di Axum, Ethiopia, tempat di mana Tabut Perjanjian diyakini disimpan. Foto/New York Post Gereja St. Mary of Zion di Axum, Ethiopia, tempat di mana Tabut Perjanjian diyakini disimpan. Foto/New York Post

RIAU24.COM -  ADDIS ABABA - Sebanyak 800 orang dilaporkan tewas di Ethiopia saat para jamaah dan tentara mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi apa yang dikatakan umat Kristen sebagai Ark of the Covenant atau Tabut Perjanjian dari milisi lokal.

Umat Kristen Ethiopia mengklaim Ark of the Covenant - peti kayu yang dibuat untuk menyimpan Sepuluh Perintah Musa - disimpan dengan aman di sebuah kapel di kota suci Axum di sebelah utara di wilayah Tigray.

Sedikit yang diketahui tentang pengepungan mematikan sejak Tigray terputus dari dunia dan wartawan telah dilarang untuk memasuki wilayah tersebut.

Baca Juga: Kemudahan Belanja Makanan Halal Untuk Menu Buka Puasa Di Inggris

The Sunday Times memberitakan pertempuran antara tentara Ethiopia dan pejuang pemberontak terjadi pada musim gugur, tetapi kejadian itu baru dilaporkan sekarang.

“Ketika orang-orang mendengar tembakan itu, mereka lari ke gereja untuk memberikan dukungan kepada para pendeta dan orang lain yang berada di sana melindungi Ark of the Covenant,” ungkap Getu Mak, seorang dosen universitas setempat, kepada The Times.

"Tentu saja beberapa dari mereka terbunuh karena melakukan hal itu," imbuhnya seperti dikutip dari New York Post, Kamis (25/2/2021).

Seorang diaken yang tinggal di Axum mengatakan kepada Associated Press bahwa dia membantu menghitung mayat korban, mengumpulkan kartu identitas korban dan membantu penguburan di kuburan massal.

Baca Juga: Badan Nuklir PBB Sebut Pengayaan Uranium di Iran Capai 60 Persen, Tuai Keprihatinan Besar Dari Berbagai Negara

Dia percaya bahwa diperkirakan 800 orang tewas di gereja dan di sekitar kota. “Jika Anda menyerang Axum, pertama-tama Anda menyerang identitas Orthodox Tigrayans tetapi juga semua orang Kristen Ortodoks Ethiopia,” kata Wolbert Smidt, seorang etnohistorian yang mengkhususkan diri di wilayah tersebut, kepada AP. 

Pertempuran antara tentara federal Perdana Menteri (PM) Ethiopia Abiy Ahmed dan pasukan yang setia kepada bekas partai yang berkuasa di kawasan itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), meletus pada 4 November. 

Ribuan orang diyakini tewas dan lebih dari 45.000 pengungsi menyeberang ke negara tetangga, Sudan.***

PenulisR24/saut


Loading...
Loading...