Pilih Mana, Sikat Gigi Atau Bersiwak Ketika Sedang Berpuasa?

Minggu, 02 Mei 2021 | 22:01 WIB
Ilustrasi siwak. Foto: Internet Ilustrasi siwak. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Semua umat muslim hendaknya memiliki ilmu pengetahuan terkait Bulan Ramadhan.

Salah satunya termasuk rukun puasa, syarat wajib, sampai yang makruh untuk dikerjakan.

Khusus untuk yang makruh, pandangan syariat salah satunya menyasar pada bersikat gigi ataupun bersiwak.

Baca Juga: Mengenal Kembali Tradisi Mudik Zaman Dahulu

Sikat gigi atau siwak hukumnya Makruh, artinya jika ditinggalkan mendapat pahala dan jika dikerjakan tidak membatalkan puasa.

Hukum makruh ini berlaku apabila sikat gigi dilakukan setelah tergelincirnya matahari (masuknya waktu sholat Zuhur).

Jika sikat gigi sebelum tergelincirnya matahari tidak makruh, hukum makruh itu pendapat yang rajih bagi Imam Ar-Rofi'i.

Namun Imam An-Nawawi tidak menganggapnya makruh.

هل يكره للصائم بعد الزوال فيه خلاف؟ الراجح فى الرافعى و الروضة انه يكره لقوله عليه الصلاة و السلام لخلوف فم الصائم الطيب عند الله من الريح المسك رواه البخارى.و فى رواية مسلم يوم القيامة. و الخلوف بضم الخاء واللام هو التغييرو خص بما بعده الزوال لان تغيير الفم بسبب الصوم حينئذ يظهر، فلو تغير فمه بعد الزوال بسبب اخر كنوم او غيره فاستاك لاجل ذلك لا يكره و قيل لا يكره الا ستياك مطلقا و به قال الائمة الثلاثة و رجحه النووى فى الشرح المهذب
كتاب كفاية الاخيار ص ١٦

Artinya: Apakah makruh bagi orang yang berpuasa bersiwak atau sikat gigi setelah tergelincir matahari? Hal ini terjadi perbedaan pendapat pendapat yang rajih dari Imam Rofi'i adalah makruh hal ini didasarkan atas hadis dari Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim bahwasanya perubahan bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih wangi dibanding misik. Dikhususkan dengan tergelincir matahari, karena pada waktu itu perubahn bau mulut karena berpuasa akan tampak.

Baca Juga: 6 Zodiak Ini Terkenal Dengan Ciumannya Yang Liar, Apakah Kamu Salah Satunya?

Apabila perubahan bau mulut sesudah matahari tergelincir disebabkan oleh hal lain semisal karena habis tidur maka bersiwak tidak dimakruhkan.

Pendapat yang kedua menghukumi tidak makruh secara mutlak, dan pendapat kedua juga merupakan pendapat tiga Imam Mazhab.

Dan Imam Nawawi merajihkan dalam Kitabnya Syarah Al-Muhadzab. (Kitab Kifayatul Ahyar hal: 16)

(والسواك مستحب في كل حال) ولا يكره تنزيها (إلا بعد الزوال للصائم)فرضا أو نفلا؛ وتزول الكراهة بغروب الشمس. واختار النووي عدم الكراهة مطلقا
كتاب الباجوري

Artinya: Siwak atau sikat gigi itu disunnahkan pada semua situasi kecuali dimakruhkan dengan hukum makruh tanzih bagi orang yang sedang berpuasa pada siang hari setelah matahari zawal baik puasa fardhu atau puasa sunnah dan hilanglah kemakruhannya apabila matahari sudah terbenam (maghrib). Sedangkan menurut Imam An-Nawawi beliau memilih tanpa ada kemakruhan secara mutlak.

PenulisR24/azhar


Loading...
Loading...