Tahukan Anda, Letusan Super Gunung Toba Pemicu Migrasi Manusia Keluar Afrika
RIAU24.COM - Gunung Toba di Sumatera pernah meletus dahsyat pada 74.000 tahun lalu, sebelum akhirnya berangsur-angsur menjadi danau yang dikenal dengan Pulau Samosirnya.
Letusan supervolcano itu menyisakan jejak sampai pada peninggalan purbakala di Tanduk Afrika (Somalia, Djibouti, dan Etiopia hari ini).
Berdasarkan penelitian yang melibatkan lebih dari 60 peneliti lintas disiplin, letusan supervulkan Gunung Toba berperan signifikan dalam mendorong proses adaptasi manusia purba akibat perubahan lingkungan yang ekstrem. Adaptasi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memicu migrasi manusia keluar dari Afrika dan penyebarannya ke berbagai wilayah di dunia.
Pengaruh letusan supervulkan Gunung Toba terhadap lingkungan Afrika sebenarnya telah lama diketahui. Dampak letusan tersebut bahkan terdeteksi hingga ke Pinnacle Point di Afrika Selatan, yang berjarak sekitar 350 kilometer dari Cape Town. Temuan ini menunjukkan bahwa letusan Toba memiliki konsekuensi iklim dan ekologis berskala global.
Curtis Marean, peneliti dari Institute of Human Origins, School of Human Evolution and Social Change, Arizona State University, menyatakan bahwa meskipun letusan Toba mengubah kondisi lingkungan di Afrika secara signifikan, masyarakat manusia purba mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi perubahan tersebut. Marean merupakan salah satu peneliti utama dalam studi terbaru ini, yang hasilnya merevisi pandangan sebelumnya mengenai mekanisme migrasi manusia keluar dari Afrika.
Sebelumnya, para ilmuwan berpendapat bahwa migrasi manusia yang terjadi kurang dari 100.000 tahun lalu berlangsung melalui apa yang disebut sebagai “koridor hijau”, yaitu jalur subur yang terbentuk selama periode iklim lembap di Afrika. Jalur ini diyakini menyediakan sumber daya melimpah sehingga memudahkan manusia berpindah ke luar benua Afrika.