Perdana Menterinya Dituding Kerap Mengancam, TV Rusia Tayangkan Video Simulasi Serangan Nuklir Lenyapkan Inggris

Rabu, 04 Mei 2022 | 12:19 WIB
google google

RIAU24.COM -  Stasiun televisi (TV) pemerintah Rusia menyiarkan video simulasi dari serangan drone nuklir bawah laut melenyapkan wilayah Inggris dari peta dunia. Tayangan itu disertai desakan penyiarnya, Dmitry Kiselyov, agar Presiden Vladimir Putin melakukannya.

Dmitry Kiselyov, mengatakan bahwa jika serangan nuklir tersebut benar-benar diluncurkan, Irlandia dan Inggris akan hancur dan tenggelam.

Dalam program News of the Week yang disiarkan Rossiya-1, Kiselyov menyampaikan dua simulasi serangan yakni serangan rudal Sarmat dan serangan nuklir dengan kendaraan nirawak bawah laut.

Baca Juga: Korea Utara Minta Warganya Kumur Air Garam dan Konsumsi Obat Tradisional untuk Perangi Wabah COVID-19

Kiselyov menuding bahwa Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah mengancam Rusia dengan serangan nuklir selama perang di Ukraina, sebagaimana dilansir The Stars and Stripes, Selasa (3/5).

Namun, Kantor PM Inggris atau Downing Street telah mengecam tuduhan itu sebagai klaim "tidak berdasar" dan menyebutnya sebagai contoh lain dari disinformasi yang dijajakan oleh Kremlin.

Kiselyov berujar, hanya dengan serangan rudal Sarmat satu saja, sudah cukup untuk menenggelamkan dan meratakan satu kepulauan di Inggris dan Irlandia.

“Hanya dengan sekali peluncuran, Boris, Inggris tidak akan ada lagi,” papar Kiselyov, sebagaimana dilansir The Telegraph.

“Opsi lain adalah menenggelamkan Inggris ke dalam laut menggunakan kendaraan nirawak bawah laut Rusia, Poseidon,” kata Kiselyov.

Baca Juga: Firaun Ini Paling Terkenal Sepanjang Sejarah, Siapa?

Dia menjelaskan, serangan nuklir dari bawah laut tersebut memiliki daya ledak hingga 100 juta ton dan akan menciptakan tsunami raksasa di sepanjang garis pantai.

Kiselyov menambahkan, tsunami dengan radioaktif sebesar itu akan membuat apa pun menjadi gurun yang tidak layak huni untuk waktu yang lama.

PenulisR24/riz


Loading...
Loading...