Cacar Monyet Kian Merajalela, Ternyata Korbannya Kebanyakan Pria Gay dan Biseksual

Kamis, 19 Mei 2022 | 15:23 WIB
Gambar: (Cynthia S. Goldsmith, Russell Regnery/CDC/Handout via REUTERS) Gambar: (Cynthia S. Goldsmith, Russell Regnery/CDC/Handout via REUTERS)

RIAU24.COM - Otoritas kesehatan Amerika Utara dan Eropa telah mendeteksi lusinan kasus yang diduga dan dikonfirmasi sebagai monkeypox (cacar monyet) sejak awal Mei.

Baca Juga: Apa itu Mental Health yang Jadi Trend Google? Berikut Pengertian dan Cara Menjaganya

Kanada adalah negara terbaru yang melaporkan selusin kasus yang dicurigai cacar monyet, setelah Spanyol dan Portugal sebelumnya mendeteksi 40 kasus.

Sementara itu, Inggris sudah mengkonfirmasi sembilan kasus cacar monyet sejak 6 Mei. Korban pertamanya adalah seorang pria di Massachusetts yang sebelumnya berpergian ke Kanada.

Baca Juga: Penemuan Baru Menjelaskan Mengapa Wanita Lebih Banyak Menderita Alzheimer Daripada Pria

Cacar monyet, yang sebagian besar terjadi di Afrika barat dan tengah, adalah infeksi virus yang mirip dengan cacar manusia, meskipun lebih ringan. Penyakit pertama kali terdeteksi di Republik Demokratik Kongo pada 1970-an. 

Penyakit ini biasanya dimulai dengan gejala seperti flu, demam, nyeri otot dan pembengkakan kelenjar getah bening sebelum menyebabkan ruam seperti cacar air di wajah dan tubuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Selasa (17/5) bahwa pihaknya berkoordinasi dengan pejabat kesehatan Inggris dan Eropa mengenai wabah ini.

Dalam penyelidikan mereka, WHO menemukan bahwa banyak kasus dialami oleh orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai gay, biseksual atau laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki.

"Kami melihat penularan di antara pria yang berhubungan seks dengan pria," kata Asisten Direktur Jenderal WHO Dr. Soce Fall saat konferensi pers.

 

PenulisR24/ame


Loading...

Loading...