Gawat! Korea Selatan Krisis Populasi, Anak Muda Makin Ogah Nikah

Minggu, 31 Juli 2022 | 12:08 WIB
Ilustrasi/cnbc Ilustrasi/cnbc

RIAU24.COM - Krisis populasi yang tengah dihadapi Korea Selatan makin nyata. Semakin banyak anak muda yang ogah menikah sehingga jumlah populasi Negeri Ginseng terus menyusut. 

Mengutip laporan Korea Times, jumlah bayi yang lahir di negara tersebut turun secara drastis sebanyak 8,8 persen pada bulan Mei 2022 dibanding tahun sebelumnya. 

Baca Juga: 4 Olahraga Jitu untuk Mengecilkan Lengan Atas Berlemak

Hal ini menunjukkan bahwa populasi Korea Selatan di ambang penurunan tajam, bahkan menyentuh rekor terendah untuk setiap bulan Mei sejak 1981.

Korea tengah berjuang menghadapi rendahnya angka kelahiran karena banyak anak muda menunda atau enggan untuk menikah atau memiliki bayi di tengah perlambatan ekonomi.

Alasan lainnya yang membuat generasi muda tak ingin punya anak adalah karena harga perumahan yang tinggi, ditambah dengan perubahan norma sosial tentang pernikahan.

Tingkat kesuburan total di Korea Selatan mencapai titik paling rendah

Angka kelahiran bayi terus anjlok dari tahun ke tahun. Pada Februari 2022, jumlah rata-rata anak yang dikandung seorang wanita Korea Selatan dalam hidupnya mencapai titik terendah sepanjang masa, yakni hanya sebesar 0,81 tahun lalu, turun dari 0,84 tahun lalu. Ini menandai tahun keempat berturut-turut di mana tingkat kesuburan berada di bawah 1 persen, dikutip dari cnbc. 

Sementara itu, tingkat kematian mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada Mei di tengah penuaan yang cepat dan pandemi COVID-19.

Jumlah kematian mencapai 28.859 dalam periode yang disebutkan, naik 12,8 persen dari tahun lalu. Ini menjadi angka yang tertinggi untuk setiap bulan Mei sejak badan statistik mulai mengumpulkan data terkait pada tahun 1983. 

Baca Juga: Johnson and Johnson Akan Berhenti Menjual Bedak Bayi Penyebab Kanker Secara Global Pada Tahun 2023

Korea Selatan sendiri mengalami gelombang Omicron terburuk pada bulan Maret, dengan kasus virus harian melonjak menjadi lebih dari 620.000 pada satu titik. Kematian akibat COVID-19 mencapai angka tertinggi sepanjang masa, yaitu 469 kematian pada 24 Maret.

Karena jumlah kematian melebihi jumlah kelahiran, populasi negara itu menurun 8.852 pada bulan Mei. Ini menandai penurunan yang ke-31 berturut-turut secara bulanan.

(***)

PenulisR24/zura


Loading...
Loading...