Menu

Mengenal Thiwul, Kuliner Tradisional yang Lahir dari Penjajahan

Amastya 17 Aug 2022, 18:21
Thiwul, makanan tradisional yang lahir dari penjajahan Belanda /gunungkidulku.com
Thiwul, makanan tradisional yang lahir dari penjajahan Belanda /gunungkidulku.com

RIAU24.COM - Warga Dusun Wintaos Girimulyo Panggang Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta sudah turun-temurun mengonsumsi Thiwul. Meski sempat tergeser popularitasnya oleh beras, Thiwul tetap dilestarikan.

Dikutip YouTube CNN Indonesia pada (17/8/22), cara membuat dan memasak Thiwul tak pernah berubah sejak zaman penjajahan Belanda.

Sekolah Pagesangan mengampanyekan kembali Thiwul sebagai makanan pokok asli Gunungkidul bersama perempuan-perempuan Wintaos.

“Kalau untuk masyarakat Gunungkidul itu sangat kompatibel sekali itu Thiwul ini. Makanya kenapa itu masih lekat sampai sekarang karena tradisi pangan di Gunungkidul itu kan menyimpan pangan hingga panen berikutnya,” kata Diah Widuretno selaku pendiri sekolah Pagesangan.

Di Wintaos kisah singkong atau manihot esculenta yang menjadi makanan pokok sudah ada setidaknya sejak tahun 1930.

“Ceritanya itu masih langka sama beras itu belum ada jarang ada beras itu. Terus tiap hari makannya Thiwul nanti kalau makan nasi itu banyak Thiwulnya daripada nasinya nanti terus dicampur sama lauk apa saja, sambal sama gereh sama sayur itu daun-daunan itu,” tutur Muji, warga Wintaos.

Ahli gastronomi Universitas Negeri Yogyakarta Minta Harsana memastikan Thiwul lahir di Gunungkidul akibat penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1940 an sentralisasi beras di zaman kolonial Belanda yang dilanjutkan Jepang membuat Harga beras mahal

“Kalau saya mengatakan bahwa sejak zaman Belanda kalau yang membawa itu adalah dari Portugis kemudian dikembangkan oleh hindia-belanda. Hindia Belanda bisa mengambil keuntungan bisa menjadi barang ekspor ke beberapa negara Eropa. Kemudian, berkembang pada masa-masa penjajahan, katanya.

“Itu saya katakan sebagai makanan masa-masa kolonial karena tidak ada alternatif lain bahkan orang-orang kita itu kalau makan ya Thiwul dengan sayuran atau kulupan,” tambahnya.

Di Indonesia singkong pertama dibawa Portugis masuk ke Maluku. Namun, karena tak berkembang singkong lalu dibawa ke Jawa pada 1852. Hampir seperempat abad kemudian singkong sempat diperkenalkan Bupati Trenggalek Jawa Timur namun tetap tidak berkembang.

Lalu singkong justru berkembang di Kabupaten sekitarnya seperti Cilacap Wonogiri hingga Gunung Kidul. Singkong pernah diekspor Belanda ke sejumlah negara Eropa pada 1928.

Cara membuat tiwul juga tidak pernah berubah seperti yang dilakukan Thiwul Yu Tum di Wonosari, Gunungkidul.

Pertama singkong dikupas dan dicuci setelah itu dijemur dibawah terik matahari antara lima hingga tujuh hari hingga hilang kadar airnya yang biasa dikenal dengan nama Gaplek. Gaplek kemudian dihaluskan.

Saat akan dimasak tepung gaplek diberi air secukupnya dan lalu dikukus selama lebih kurang lima belas menit.

“Kalau untuk menggunakan kayu bakar itu untuk kematangannya lebih sempurna. Jadi ya lebih untuk kekenyalannya juga lebih sempurna,” kata Slamet Riyadi pemilik Thiwul Yu Tum.

(***)