Menu

BKsPPI Apresiasi Al Azhar Usai Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa Indonesia 

Zuratul 26 Dec 2022, 15:18
Potret Pemerintah Indonesia dalam Pertemuan dengan Pihak Kampus Al Azhar (Sekretariat Kabinet/Foto)
Potret Pemerintah Indonesia dalam Pertemuan dengan Pihak Kampus Al Azhar (Sekretariat Kabinet/Foto)

RIAU24.COM - Sekretaris Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Ustaz Akhmad Alim mengapreasi Universitas Al Azhar Kairo Mesir yang menambah kuota beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. 

Dia pun berharap, kuota beasiswa tersebut terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. 

"BKSPPI mengapresiasi dari pihak Universitas Al Azhar yang meningkatkan jumlah beasiswa untuk mahasiswa Indonesia yang asalnya 200 menjadi 250," ujar Ustaz Akhmad saat dihubungi Republika.co.id, Senin (26/12/2022).

Dia mengatakan, selama ini Al Azhar Mesir telah menjalin hubungan baik dengan Indonesia, khususnya bagi santri-santri alumni pondok pesantren. Namun, menurut dia, kuota beasiswa tersebut diharapkan bisa terus bertambah. 

"Dan ini diharapkan dari tahun ke tahun hendaklah ditingkatkan terus. Jadi, mungkin tahun depan tidak hanya 250, tapi bisa 500 atau seribu khusus untuk Indonesia. Karena jumlahnya dari alumni-alumni pondok pesantren di Indonesia sangat besar sekali. Jadi kalau hanya diberikan 250 ini masih sangat kurang," ucapnya. 

"Jadi, makanya harapannya nanti BKsPPI meminta supaya kuota ini selalu ditingkatkan, supaya bisa menjadi wadah bagi apra santri untuk melanjutkan pendidikan untuk jenjang perguruan tinggi di Al Azhar," katanya. 

Ustaz Akhmad menjelaskan, selama ini Al Azhar Mesir telah memberikan pelayanan yang naik dan meningkatkan jumlah beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Namun, menurut dia, ada juga para pelajar Indonesia yang tidak diterima di universitas Islam ternama tersebut. 

"Bagi mereka yang belum bisa diterima di Al Azhar masih banyak bagi para santri untuk bisa melanjutkan kuliah. Jadi banyak kampus-kampus alterntif di Timur Tengah khususnya," jelas Ustaz Akhmad.

Menurut dia, perguruan tinggi di Timur Tengah yang menyediakan beasiswa adalah Universitas Islam Madinah, Universitas Umm Al-Qura di Makkah, Darul Hadits Makkah, dan Ma'had Al-Haram Makkah. Selain itu, ada juga Rabithah al-'Alam al-Islami (Liga Muslim Dunia) yang juga sudah punya kampus jurusan dakwah. 

"Di Saudi sendiri banyak menyediakan beasiswa gratis bahkan dapat fasilitas kesehatan, mukafaah (insentif), buku, transporatasi, semuanya gratis, ada uang sakunya," ujar Ustaz Akhmad.

Selain itu, ada juga perguruan tinggi di Brunei Darussalam yang juga bisa menjadi alternatif lainnya. Menurut dia, di Brunei ada universitas yang bermazhab Syafiiyah yang cocok bagi santri-santri Indonesia, yaitu Universitas Islam Sultan Sharif Ali.

"Itu juga beasiswanya banyak sekali dan besar sekali. Nah, kemudian juga selain di Timur Tengah, kemudian di Asia. Untuk di Indonesia para santri juga bisa melanjutkan di kampus yang memberikan beasiswa, misalkan kayak Universtias Ibnu khaldun Bogor, itu khsuus para santri yang hafal Alquran, kuliah di situ gratis beasiswanya dengan berbagai macam jurusan," kata Ustaz Akhmad.

Kendati demikian, menurut dia, sejauh ini Universiras Al Azhar Mesir masih menjadi favorit bagi kaum santri untuk melanjutkan studinya, baik bagi santri yang belajar di pesantren salaf maupun pesantren modern. 

"Jadi dari dulu sampai hari ini Al Azhar itu tetap menjadi kampus tertua dan terfavorit untuk para santri yang ada di Indonesia," ujarnya. 

Ustaz Akhmad menuturkan, para santri Indonesia masih menjadikan Al Azhar sebagai kiblat keilmuan. Karena, menurut dia, di Al Azhar masih menjaga tradisi-tradisi sanad keilmuan. 

"Jadi, sanad-sanad keilmuan itu masih terjaga di Al Azhar, sehingga menjai kiblat bagi para santri untuk melanjutkan dan tafaqquh fiddin," ucapnya. 

Selain itu, Usaz Akhmad jugq menyarankan kepada santri yang telah diterima di Al Azhar untuk tetap menjaga nama baik santri dengan sopan santun, adab, dan tatakramanya. 

"Itu menjadi ciri khas, dan itu menjadi hal yang dikagumi oleh para guru besar di Al Azhar, para mufti di Al Azhar. Mereka sangat dekat dengan orang Indonesia karena adabnya itu, karena sopan santunnya," jelas dia.

"Itu hendaklah senantiasa dijaga itu. Itu menjaga nama baik pesantren, nama bangsa, dan juga nama Universitas Al Ahzar," imbuhnya.

Ustaz Ahmad menambahkan, para santri yang sudah diterima di Al Azhar hendaknya juga terus mengembangkan keilmuannya. Menurut dia, selama di Kairo para santri Indonesia harus banyak mengikuti kajian para masyayikh. Tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus atuapun di tmpat-tempat lain yang di situ dibuka oleh para masyayikh. 

"Silahkan untuk ikut supaya ilmunya teruprade dengan baik, berkembang dan terus bertambah. Kemudian selanjutnya hendaklah para santri yang melanjutkan di Al Azhar memilih berbagai bidang keilmuan. Jadi tidak hanya satu variasi ilmu. Tidak hanya fikih saja, ambillah jurusan lain, jurusan hadits, jurusan tafsir dan lainnya," tutupnya. 

Sebelumnya, l Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas bertemu dengan Grand Syeikh Al Azhar (GSA), Prof Dr Ahmed Al Tayeb di Kairo, Kamis (22/12/2022). Yaqut berharap Al Azhar dapat menambah kuota beasiswa untuk mahasiswa Indonesia.

"Alhamdulillah, siang ini waktu Kairo, saya diterima Grand Syekh Al Azhar, Prof Dr Ahmed Al-Tayeb. Saya sampaikan harapan akan penambahan kuota beasiswa dan beliau merespons dengan baik," ujar Yaqut.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Masyikhatul Azhar, Yaqut juga mengajukan permohonan agar asrama yang dulu dijadikan sebagai tempat isolasi bagi penderita Covid-19 dapat difungsikan kembali sebagai asrama mahasiswa. 

Terhadap usulan Menag, Syeikh Ahmed Al Tayeb menyambut baik. Pihaknya akan menambah kuota beasiswa dari 200 menjadi 250 mahasiswa. 

"Kami akan menambah beasiswa bagi calon mahasiswa Indonesia di Al Azhar dari 200 menjadi 250. Kami sangat respek kepada anak-anak Indonesia yang berakhlak mulia, santun, ramah, dan tekun, serta memiliki minat dan motivasi tinggi terhadap pendidikan," kata Syeikh Ahmed Al-Tayeb.

(***)