Menu

Ekonomi Inggris Suram, Inflasi Tak Terbendung Lebih Buruk dari Rusia! 

Zuratul 9 Mar 2023, 10:49
Potret Salah Satu Supermarket di Inggris Kehabisan Stock Sayur Akibat Ekonomi Suram. (BBC/Foto)
Potret Salah Satu Supermarket di Inggris Kehabisan Stock Sayur Akibat Ekonomi Suram. (BBC/Foto)

RIAU24.COM - Inggris saat ini tengah menghadapi ditidakjelasan kondisi perekonomian untuk tahun depan. Para petugas transportasi dan kesehatan telah menggelar mogok kerja yang mencerminkan ketidakpuasan sosial atau situasi ekonomi di negara itu. 

Dengan pertumbuhan ekonomi yang saat ini mendekati nol dan tingkal inflasi di angka 10%, prospek tahun ini tidak membuat opimistis. 

Organisasi seperti Lembaga Pertanggungjawaban Anggaran Inggris dan dana Moneter Internasional (IMF) memperkiraka n ekonomi Inggris akan bekontrasi pada tahun 2023. 

Jika perkiraan itu menjadi kenyataan, Inggris menjadi salh satunya negara ekonomi besar yang mengalami resesi. Bahkan Rusia yang notabene menghadapi berbagai masalah ekonomi akibat perang di Ukraina, bisa lolos dari hantaman resesi. 

Ada empat faktor yang terus mengganggu keuangan warga Inggris dan menunjukkan keadaan ekonomi yang buruk melansir detik.com, Kamis (9/3).

1. Kurangnya makanan segar di supermarket

Penjatahan telur terjadi dan sekarang banyak rumah tangga Inggris kesulitan mendapat tomat, selada, dan sejumlah sayuran segar lainnya.

Inggris adalah ekonomi terbesar keenam di dunia tetapi tidak bisa menyediakan salad untuk warganya, kata surat kabar Inggris, Financial Times.

Dihadapkan pada kekurangan selada, tomat, paprika, mentimun, brokoli, kembang kol, dan raspberry, supermarket-supermarket di Inggris menjatah penjualan sayuran dan buah.

2. Membeli rumah sendiri menjadi lebih sulit dan menyewa properti menjadi lebih mahal

Harga rumah di Inggris saat ini adalah yang tertinggi sejak 1876.

Ketika bank sentral di banyak negara telah meningkatkan ongkos meminjam uang dalam upaya mengendalikan inflasi, tetapi Bank Sentral Inggris lebih agresif dengan menaikkan suku bunga 10 kali berturut-turut.

Yang terakhir adalah Februari lalu ketika bank sentral lagi-lagi menaikkan suku bunga sebesar 0,5%, hingga mencapai 4%.

Ini tidak hanya membuat perumahan lebih mahal tetapi juga membuat biaya kontrak rumah jauh lebih tinggi.

Saat warga Inggris tidak mampu membeli rumah, tidak ada pilihan lain selain mengontrak. Akibatnya, harga sewa semakin naik.

3. Ekonomi Inggris akan lebih buruk dari Rusia pada tahun 2023, menurut IMF 

Menurut dokumen World Economic Outlook Update, yang diterbitkan oleh IMF pada 31 Januari, ekonomi Inggris akan berkontraksi sebesar 0,6% pada tahun 2023.

Inggris akan menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi di antara negara-negara ekonomi besar.

Bahkan Rusia, dengan semua sanksi internasional yang dijatuhkan kepadanya akibat perang di Ukraina, punya prospek yang lebih baik.

Hampir semuanya setuju dengan prakiraan IMF bahwa Inggris akan memasuki resesi pada tahun 2023, meskipun banyak lembaga pemerintah tidak setuju tentang durasi dan kedalamannya.

4. Inflasi tampak tak terbendung

Inflasi Inggris tetap di atas 10% dan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Selain itu, seperti dilansir kantor berita Reuters, inflasi di sektor bahan-bahan makanan pokok mencapai 17,1% dalam empat minggu hingga 19 Februari, tertinggi sepanjang masa.

Analis pasar Kantar mengatakan rumah tangga Inggris rata-rata menghabiskan sekitar US$1.000 (Rp15,4 juta) lebih banyak dalam setahun untuk belanja di supermarket daripada sebelumnya, jika mereka tidak mengubah perilaku belanja mereka untuk menghemat biaya.

Namun, Luke Bartholomew, ekonom senior di Abrdn, percaya bahwa "melihat pertumbuhan harga pangan secara terisolasi memberikan gambaran yang agak menyesatkan tentang gambaran keseluruhan inflasi, yang diproyeksikan akan turun dengan cepat tahun ini."

"Resesi mungkin akan diperlukan sebelum inflasi perlahan tapi pasti kembali ke target," imbuh sang pakar.

(***)