Menu

Rusia Terus Menggempur Odesa dengan Serangan Misil, 1 Orang Tewas

Amastya 27 Jul 2023, 17:02
Seorang juru bicara komando militer selatan Ukraina mengatakan badai semalam telah membantu Rusia dalam serangan /AFP
Seorang juru bicara komando militer selatan Ukraina mengatakan badai semalam telah membantu Rusia dalam serangan /AFP

RIAU24.COM - Serangan Rusia di kota Odesa, Ukraina berlanjut semalaman saat rudal menargetkan infrastruktur pelabuhan, kata gubernur kawasan itu pada Kamis (27 Juli).

Sejak Rusia menarik diri dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam awal bulan ini, serangan telah meningkat di kota-kota Ukraina. Menurut Gubernur Oleg Kiper, satu orang tewas dalam serangan semalam di mana rudal Kaliber digunakan.

“Pada malam hari, (Rusia) melancarkan serangan rudal ke wilayah Odesa. Sasaran agresor adalah infrastruktur pelabuhan. Rusia menembakkan rudal Calibre dari kapal selam di Laut Hitam,” tulis Kiper di Telegram.

"Seorang PNS kelahiran 1979 meninggal dunia akibat tertabrak. Peralatan salah satu terminal kargo rusak, gedung keamanan dan dua mobil hancur. Belasungkawa yang tulus kepada keluarga almarhum," tambahnya.

Sementara itu, juru bicara komando militer selatan Ukraina mengatakan badai semalam membantu pihak Rusia melancarkan serangan.

“Musuh mengambil keuntungan dari kondisi cuaca, dan meluncurkan misil selama guntur dan angin dan pada ketinggian yang sangat rendah untuk mempersulit mereka,” kata juru bicara itu.

Menurut pejabat senior Ukraina selama sembilan hari terakhir, Rusia telah merusak 26 fasilitas infrastruktur pelabuhan dan lima kapal sipil. Pekan lalu, sebuah konsulat China di kota pos juga dirusak oleh serangan Rusia.

Setelah menarik diri dari kesepakatan yang memberikan jalur aman ke kapal kargo yang membawa pengiriman biji-bijian, Rusia mengatakan sedang mengawasi kapal-kapal Ukraina, dan akan menganggap mereka sebagai target militer potensial.

Khususnya, pada hari Kamis, dinas keamanan FSB Rusia menolak sebuah kapal kargo yang menuju pelabuhan Rostov-on-Don setelah menemukan jejak bahan peledak di atasnya.

FSB menyatakan kapal itu datang dari Turki dan sebelumnya berlayar ke pelabuhan Reni di Ukraina.

"Keputusan diambil untuk mencegah lewatnya kapal di bawah lengkungan pengiriman Selat Kerch dan telah dikembalikan dari perairan teritorial Rusia," tambahnya.

(***)