Menu

Daftar Gejala Varian EG.5, Ringan tapi Bisa Picu Kondisi Berat Jika Ada Komorbid

Devi 9 Dec 2023, 18:20
Daftar Gejala Varian EG.5, Ringan tapi Bisa Picu Kondisi Berat Jika Ada Komorbid
Daftar Gejala Varian EG.5, Ringan tapi Bisa Picu Kondisi Berat Jika Ada Komorbid

RIAU24.COM - Indonesia kini kembali diterpa kenaikan kasus COVID-19, disebut-sebut akibat menyebarnya varian Eris EG.5 yang juga memicu kenaikan di Singapura. 

Menurut dokter paru, varian ini memang cenderung memicu gejala ringan. 

Namun ia punya catatan tersendiri bagi orang-orang dengan kondisi tertentu, seperti apa?

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus spesialis paru RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(K) menjelaskan, mengacu pada data dari (Global Initiative on Sharing All Influenza Data), varian EG.5 sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia pada Juli 2023, dengan kasus mencapai 20 persen. 

Namun dengan temuan saat itu, tidak terjadi lonjakan kasus maupun perawatan inap pasien COVID-19 di Indonesia.

"Ternyata gejalanya ringan-ringan saja sebagaimana Omicron. Belum ada data yang menunjukkan bahwa EG.5 atau HK.3 ini menghasilkan gejala yang berbeda dari varian biasa seperti XBB.1 dan di atas lagi Omicron itu ternyata tidak berbeda bermakna," terangnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (7/12/2023).

Ia menjabarkan, seperti COVID-19 dengan infeksi varian Corona lainnya, varian Eris EG.5 memicu gejala berupa:

Demam tinggi
Batuk
Rhinorrhea (meler)

Kehilangan kemampuan mencium bau dan mengecap

Menurut dr Erlina, tingkat keparahan gejala pasien COVID-19 sebenarnya bukan dipicu oleh jenis varian yang menginfeksi, melainkan kondisi kekebalan tubuh pasien. 

Walhasil pada varian apa pun termasuk Eris EG.5, yang rentan mengalami gejala berat adalah orang-orang dengan penyakit komorbid dan masalah imunitas.

"Biasanya kita temukan pada lansia, orang dengan komorbiditas misalnya diabetes melitus, hipertensi, gangguan ginjal khususnya yang tidak terkontrol tentu saja," tutur dr Erlina.

"Dan orang-orang yang kondisinya immunocompromise (seperti) pengidap HIV, autoimun, atau pasien kanker juga imunitasnya rendah sekali sehingga kalau terinfeksi COVID biasanya gejalanya tidak ringan-ringan saja sebagaimana yang lain tetapi bisa berat," pungkasnya. ***