Menu

Kasus Langka, Kisah Wanita India Kena Serangan Jantung 5 Kali dalam 16 Bulan

Devi 11 Jan 2024, 17:25
Kasus Langka, Kisah Wanita India Kena Serangan Jantung 5 Kali dalam 16 Bulan
Kasus Langka, Kisah Wanita India Kena Serangan Jantung 5 Kali dalam 16 Bulan

RIAU24.COM -  Seorang wanita di Mulund, Mumbai, India, mengalami kondisi yang cukup menakutkan. Wanita bernama Rekha (nama samaran) mengalami serangan jantung sebanyak lima kali dalam 16 bulan terakhir.
Rekha yang berusia 51 tahun itu sudah memasang lima stent atau yang lebih sering disebut ring jantung. Ia juga telah menjalani enam prosedur angioplasti dan satu operasi bypass jantung.

Ia terakhir kali dibawa ke laboratorium kateter pada tanggal 1 dan 2 Desember 2023.

"Saya hanya ingin tahu apa yang salah dengan diri saya. Dan apakah saya akan mengalami penyumbatan baru dalam tiga bulan ke depan," kata Rekha yang dikutip dari Times of India, Kamis (11/1/2024).

Serangan jantung pertamanya terjadi di kereta saat kembali ke Borivli dari Jaipur pada September 2022. Saat itu, dia dibawa ke rumah sakit umum di Ahmedabad oleh petugas kereta api.

"Kami memilih untuk bergegas ke Mumbai untuk menjalani angioplasti," katanya kepada TOI dari kamar kembarnya di Rumah Sakit Fortis, Mulund.

"Pemicu masalah jantung Rekha masih menjadi misteri," kata Dr Hasmukh Ravat, yang menjadi ahli jantungnya sejak Juli, setelah dia menjalani 2 kali angioplasti dan operasi bypass.

Para ahli, termasuk beberapa dokter yang pernah merawatnya, percaya bahwa penyebab kondisi yang dialami Rekha karena adanya penyakit autoimun, seperti valkulitis. Itu merupakan kondisi saat pembuluh darah meradang dan menyempit.

Namun, hasil tes sejauh ini belum menunjukkan diagnosis yang jelas. Setiap beberapa bulan setelahnya, gejala serangan jantung yang dialami Rekha terus muncul, seperti nyeri tajam di dada, bersendawa, dan gelisah.

"Saya mengalami serangan jantung pada bulan Februari, Mei, Juli dan November," katanya.

Ia mengatakan bahwa ada kejadian lain ketika dirinya dilarikan ke rumah sakit karena panik karena takut akan serangan lain.

Rekha mempunyai masalah kronis lainnya seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas dengan berat badan 107 kg pada September 2022. Sejak itu, beratnya turun lebih dari 30 kg.

Dia telah diberi suntikan 'PCSK9 inhibitor', obat penurun kolesterol yang relatif baru yang menjaga kadar kolesterolnya tetap rendah, dan gula darahnya juga terkendali. Namun, serangan jantung terus berlanjut.

Dr Ravat mengungkapkan umumnya pasien memang bisa mengalami penyumbatan berulang di tempat yang sama. Namun, Rekha selalu mengalami penyumbatan baru di tempat yang berbeda.

"Serangan pertamanya disebabkan oleh penyumbatan 90 persen pada arteri desendens anterior kiri dan 99 persen penyumbatan pada arteri koroner kanan pada serangan berikutnya," jelas Dr Ravat.

Dia pernah mengalami lesi kompleks di trifurkasi arteri utama. Karena Rekha mengalami banyak tusukan di arteri femoralisnya saat itu, Dr Ravat harus mengatasi persimpangan rumit ini melalui tangannya (arteri radial kiri). Rekha berdoa agar prosedur laboratorium kateter pada tanggal 1 dan 2 Desember menandai berakhirnya kunjungannya ke rumah sakit.

"Dokter telah memberi saya steroid dan serangkaian obat-obatan baru yang diharapkan dapat membantu," katanya.

Secara medis, Rekha beruntung karena serangan jantung yang dialaminya merupakan NSTEMI atau infark miokard non-ST-elevasi. Itu terjadi ketika kebutuhan jantung akan oksigen tidak dapat terpenuhi.

"Serangan jantung STEMI berbahaya jika dibandingkan. Meski telah menjalani delapan prosedur berbeda, fraksi ejeksi jantungnya adalah 45 persen dan itu merupakan hal yang baik," tambah Dr Ravat.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Departemen Kardiologi Rumah Sakit KEM, Dr Ajay Mahajan, mengatakan kondisi 'aterosklerosis ganas' atau pengerasan arteri jarang terjadi. Dokter telah menjaga agar lipidnya tetap rendah selama berbulan-bulan, dia telah menjalani pemasangan stent dan bypass, tetapi masalahnya berulang.

"Oleh karena itu, ini mungkin merupakan kondisi autoimun yang jarang terjadi di tempat kerja," tambah Dr Mahajan. ***