Menu

Wamenhan Buka Suara soal Pembelian Pesawat Tempur Bekas: Kalau Kita Mau Beli yang Baru Tidak Secepat Itu

Rizka 12 Jan 2024, 12:53
Wakil Menteri Pertahanan, Muhammad Herindra
Wakil Menteri Pertahanan, Muhammad Herindra

RIAU24.COM - Beberapa waktu lalu Calon Presiden Nomor Urut 3 Ganjar Pranowo mempertanyakan maksud dari pembelian alat utama sistem pertahanan (Alutsista) bekas, seperti pesawat bekas. Ia menilai pesawat bekas memberikan risiko terhadap penggunaannya.

Wakil Menteri Pertahanan, Muhammad Herindra menjelaskan, pihaknya fokus melihat adanya kekosongan pada alat perang. Sehingga, kata dia, perlu pengadaan secara cepat.

"Sehingga kalau kita mau beli yang baru tidak secepat itu dan tidak semudah itu," katanya dalam acara Membangun Kekuatan Pertahanan di Kawasan Regional yang disiarkan YouTube Media Center Indonesia Maju, Jumat (12/1).

Dia mengatakan, kalaupun ada uang belum tentu bisa dibeli. Ia pun mengibaratkan, jika membangun sebuah rumah dan atapnya bolong maka atap itu harus segera ditutup. Sementara, jika membeli yang baru maka akan butuh waktu yang lama.

"Sementara yang ada tersedia, bukan bekas, tapi masih layak digunakan dan siap dipakai, makanya itulah yang segera kita taruh di situ," katanya.

Ia pun mengatakan, pihaknya telah membeli 42 unit pesawat tempur baru Rafale. Dia bilang, belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia pengadaan alat baru sebanyak 42 unit.

"Belum pernah ada sejarah selama republik ini berdiri pengadaan alat perang baru 42 unit," katanya.

Itu saja, kata dia, baru siap (ready combat) baru 7 tahun yang akan datang. Dia mengatakan, sambil menunggu pesawat-pesawat itu jadi, maka kekosongan itu harus diisi.

"Bayangkan begitu lama, tapi kalau kita dalam rangka menunggu yang baru itu, kekosongan yang masih lowong itu diisilah. Dan ini bukan masalah bekas dan baru yang kita pilih kemarin, yang dibicarakan itu, ini karena memang alat perang pesawat itu masih layak pakai atau tidak. Itu pengganti untuk sambil menunggu alat perang yang kita rencanakan," jelasnya.