Alarm Krisis Fiskal Kabupaten Bengkalis Sebagai Episentrum Pertumbuhan Ekonomi Regional
RIAU24.COM - Secara konsisten, Kabupaten Bengkalis menempatkan dirinya sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi regional dengan menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar nomor satu di Provinsi Riau.
Dominasi ini tercatat sangat impresif pada kurun waktu 2020 hingga 2023. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020 saja, PDRB Bengkalis atas dasar harga berlaku (ADHB) telah mencapai Rp115,88 triliun mengungguli Kota Pekanbaru sebagai ibu kota provinsi.
Puncaknya pada tahun 2023, kontribusi ekonomi Negeri Junjungan ini meroket ke angka fantastis sebesar Rp168,64 triliun, atau setara dengan 16,39 persen dari total PDRB Provinsi Riau. Angka ini mengukuhkan Bengkalis di peringkat pertama, disusul Kota Pekanbaru (15,54 persen) dan Kabupaten Siak (10,68 persen).
Aura sebagai "kabupaten kaya" ini begitu melekat secara nasional. Penulis teringat momentum emosional ketika pelantikan bersama kepala daerah se-Indonesia di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto. Saat berjabat tangan erat dan memperkenalkan diri sebagai Wakil Bupati Bengkalis, Presiden Prabowo secara spontan berujar, "Wah, itu Kabupaten Kaya Raya."
Stigma kelimpahan materi ini memang memiliki basis historis. Pasca-Reformasi, pemberlakuan skema desentralisasi fiskal melalui Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas bumi (migas) sempat membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bengkalis melompat raksasa ke angka Rp1 triliun hingga puncaknya menembus Rp5 triliun pada tahun 2015. Sejak saat itu, porsi besar hasil pengerukan minyak bumi di perut bumi Bengkalis secara legal dikembalikan ke kas daerah.
Guncangan Fiskal dan Efek Domino