Menu

Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar

Devi 5 Aug 2026, 10:58
Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar
Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui Dorong Pertumbuhan Ekonomi Wisata Desa di Kampar

RIAU24.COM, Kampar - Pengembangan Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, Riau, mulai menunjukkan dampak ekonomi melalui pertumbuhan sektor wisata berbasis konservasi. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan mendorong peningkatan kapasitas pengelolaan destinasi sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat sekitar.

Melalui Program Desa Wisata, PHR mendukung penguatan ekosistem wisata Imbo Putui dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut mencakup peningkatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengembangan promosi digital, serta pembangunan infrastruktur pendukung untuk meningkatkan daya saing destinasi.

Hutan Adat Imbo Putui merupakan hutan adat pertama di Provinsi Riau yang memperoleh pengakuan resmi negara melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019. Kawasan ini kemudian ditetapkan secara resmi sebagai hutan adat pada 2020 dan menjadi salah satu contoh pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat.

Dengan potensi wisata alam berupa sungai, area berkemah, dan jalur trekking, Imbo Putui memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Namun, sebelum dilakukan penguatan program, kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan fasilitas wisata dan kapasitas pengelolaan.

Dukungan pengembangan yang diberikan PHR mencakup peningkatan fasilitas dasar dan tata kelola kawasan. Jumlah fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) meningkat dari dua unit menjadi enam unit, area camping diperluas, musala direvitalisasi, papan informasi diperbarui, serta fasilitas kebersihan ditambah untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Ketua Pokdarwis Imbo Putui, Said Afrizal, mengatakan peningkatan fasilitas tersebut turut mendorong perubahan sistem pengelolaan wisata menjadi lebih profesional. Masyarakat kini terlibat aktif dalam pengelolaan kawasan, mulai dari pelayanan pengunjung, pengaturan area wisata, hingga menjaga kepatuhan terhadap aturan adat.

Halaman: 12Lihat Semua