Menu

MSCI Ultimatum Indonesia, Prabowo Tegas Tak Gentar: Bangsa Ini Tidak Takut Siapapun!

Zuratul • 22 Oct 2026, 10:39
 Presiden Prabowo, Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10/2026)
Presiden Prabowo, Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10/2026)

Karena itu, perdebatan seharusnya tidak berhenti pada apakah MSCI patut dikritik atau pemerintah harus bersikap tegas. Hal yang lebih mendasar ialah memastikan indikator penilaian, pelaksanaan reformasi, dan dampaknya terhadap kualitas pasar modal dapat diperiksa secara terbuka.

Muhammad Lutfi Duga Ada Campur Tangan Singapura

Di tengah polemik tersebut, mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melontarkan dugaan adanya campur tangan institusi investasi Singapura, yakni Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), dalam keputusan MSCI.

Lutfi mengklaim memperoleh informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia. Ia menduga perubahan status tersebut dapat memicu kepanikan pasar, menekan harga saham, dan membuka peluang bagi investor asing untuk membeli saham dengan harga lebih murah.

Lutfi juga mempersoalkan alasan MSCI mengusulkan status standalone market. Menurut dia, klasifikasi tersebut janggal karena Indonesia tidak menerapkan pembatasan arus modal atau capital control seperti yang ia gambarkan dalam pernyataannya.

Namun, dugaan keterlibatan institusi Singapura tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai fakta hanya berdasarkan klaim Lutfi. Tuduhan itu membutuhkan bukti yang dapat diverifikasi secara independen.

Halaman: 456Lihat Semua